cerita sex Kisah Ibu Muda

Kisah Ibu Muda:Donna Story

Donna, 29 tahun, adalah seorang ibu rumah tangga dengan 2 orang anak 3 dan 5 tahun. Suaminya, Herman, 36 tahun, adalah karyaDhit dari salah satu perusahaan swasta besar di Bandung. Perawakan Donna sebetulnya biasa saja seperti kebanyakan. Yang membuatnya menarik adalah bentuk tubuhnya yang sangat terawat. Buah dadanya tidak terlalu besar, tapi enak untuk dipandang, sesuai dengan pinggangnya yang ramping dan pinggulnya yang bulat.

Kehidupan rumah tangga mereka sangat harmonis. Dengan 2 anak yang sedang lucu-lucunya, ditambah dengan posisi Herman yang cukup tinggi di perusahaannya, membuat mereka menjadi keluarga yang cukup di hormati di lingkungan kompleks mereka tinggal. Donna pada dasarnya adalah istri yang sangat setia kepada suaminya. Tidak pernah ada niat berkhianat terhadap Herman dalam hati Donna karena dia sangat mencintai suaminya. Tapi ada satu peristiwa yang menjadi awal berubahnya cara berpikir Donna tentang cinta..

Suatu siang, Donna sedang mengasuh anaknya di depan rumah. Dikarenakan kedua anaknya waktu itu berlari jauh dari rumah, maka Donna langsung mengejar mereka. Tapi tanpa disengaja, kakinya menginjak sesuatu sampai akhirnya Donna terjatuh. Lututnya memar, agak mengeluarkan darah. Donna langsung berjongkok dan meringis menahan sakit. Pada waktu itu, Adhit, anak tetangga depan rumah Donna kebetulan lewat mau pulang ke rumahnya. Ketika melihat Donna sedang jongkok sambil meringis memegang lututnya, Adhit langsung lari ke arah Donna.

“Kenapa tante?” tanya Adhit.
“Aduh, lutut saya luka karena jatuh, Dhit…” ujar Donna sambil meringis.
“Bantu saya berdiri, Dhit…” kata Donna.
“Iya tante,” kata Adhit sambil memegang tangan Donna dan dibimbingnya bediri.
“Dhit, tolong bawa anak-anak saya kemari.. Anterin ke rumah saya, ya…” kata Donna.
“Iya tante,” kata Adhit sambil segera menghampiri anak-anak Donna.

Sementara Donna segera pulang ke rumahnya sambil tertatih-tatih. Waktu Adhit mengantarkan anak-anak Donna ke rumahnya, Donna sedang duduk di kursi depan sambil memegangi lututnya.

“Ada obat merah tidak, tante?” tanya Adhit.
“Ada di dalam, Dhit,” kata Donna.
“Kita ke dalam saja…” kata Donna lagi sambil bangkit dan tertatih-tatih masuk ke dalam rumah.

Adhit dan anak-anaknya mengikuti dari belakang.

“Ma, Donny ngantuk,” kata anaknya kepada Donna.
“Tunggu sebentar ya, Dhit. Saya mau antar mereka dulu ke kamar. Sudah waktunya anak-anak tidur siang,” kata Donna sambil bangkit dan tertatih-tatih mengantar anak-anaknya ke kamar tidur.

Setelah mengantar mereka tidur, Donna kembali ke tengah rumah.

“Mana obat merahnya, tante?” tanya Adhit.
“Di atas sana, Dhit…” kata Donna sambil menunjuk kotak obat.

Adhit segera bangkit dan menuju kotak obat untuk mengambil obat merah dan kapas. Tak lama Adhit segera kembali dan mulai mengobati lutut Donna.

“Maaf ya, tante.. Saya lancang,” kata Adhit.
“Tidak apa-apa kok, Dhit. Tante senang ada yang menolong,” kata Donna sambil tersenyum.

Adhit mulai memegang lutut Donna dan mulai memberikan obat merah pada lukanya.

“Aduh, perih…” kata Donna sambil agak menggerakkan lututnya.

Secara bersamaan rok Donna agak tersingkap sehingga sebagian paha mulusnya nampak di depan mata Adhit. Adhit terkesiap melihatnya. Tapi Adhit pura-pura tak melihatnya. Tapi tetap saja paha mulus Donna menggoda mata Adhit untuk melirik walau kadang-kadang. Hati Adhit agak berdebar.. Biasanya dia hanya bisa melihat dari kejauhan saja lekuk-lekuk tubuh Donna. Atau kadang-kadang hanya kebetulan saja melihat Donna memakai celana pendek.

Adhit biasanya hanya bisa membayangkan saja tubuh Donna sambil onani. Tapi kini, di depan mata sendiri, paha mulus Donna sangat jelas terlihat. Donna sepertinya sadar kalau mata Adhit sesekali melirik ke arah pahanya. Segera Donna merapikan duduknya dan juga menutup pahanya. Adhitpun sepertinya terkesima dengan sikap Donna tersebut. Adhit menjadi malu sendiri..

“Sudah saya berikan obat merah, tante…” kata Adhit.
“Iya, terima kasih,” kata Donna sambil tersenyum.
“Sekarang sudah mulai tidak terasa sakit lagi,” ujar Donna lagi sambil tetap tersenyum.

Adhit, 16 tahun, adalah anak tetangga depan rumah Donna. Masih duduk di bangku SMP kelas 3. Seperti kebanyakan anak laki-laki tanggung lainnya, Adhit adalah sosok anak laki-laki yang sudah mulai mengalami masa puber.

“Kenapa kamu nunduk terus, Dhit?” tanya Donna.
“Tidak apa-apa, tante…” ujar Adhit sambil sekilas menatap mata Donna lalu menunduk lagi sambil tersenyum malu.
“Ayo, ada apa?” tanya Donna lagi sambil tersenyum.
“Anu, tante.. Maaf, mungkin tadi sempat marah karena tadi saya sempat melihat secara tidak sengaja…” kata Adhit sambil tetap menunduk.
“Lihat apa?” tanya Donna pura-pura tidak mengerti.
“Lihat.. Mm.. Lihat ini tante,” kata Adhit sambil tangannya mengusap-ngusap pahanya sendiri. Donna tersenyum mendengarnya.
“Tidak apa-apa kok, Dhit,” kata Donna.
“Kan hanya melihat.. Bukan memegang,” kata Donna lagi sambil tetap tersenyum.
“Lagian, saya tidak keberatan kok kamu melihat paha tante tadi,” kata Donna lagi sambil tetap tersenyum.
“Kamu kan tadi sedang menolong saya memberikan obat,” kata Donna.
“Benar tante tidak marah?” tanya Adhit sambil menatap Donna.

Donna menggelengkan kepalanya sambil tetap tersenyum. Adhitpun jadi ikut tersenyum.

“Tante sangat cantik kalau tersenyum,” kata Adhit mulai berani.
“Ihh, kamu tuh masih kecil sudah pintar merayu…” kata Donna.
“Saya berkata jujur loh, tante,” kata Adhit lagi.
“Kamu sudah makan, Dhit?” tanya Donna.
“Belum tante. Saya pulang dari rumah teman tadi belum makan,” kata Adhit.
“Makan disini saja, ya.. Temani saya makan siang,” ajak Donna.
“Baik tante, terima kasih,” kata Adhit.

Mereka menikmati makan siang di meja makan bulat kecil. Ketika sedang menikmati makan, tanpa sengaja kaki Adhit menyentuk kaki Donna. Adhit kaget, lalu segera menarik kakinya.

“Maaf tante, saya tidak sengaja,” kata Adhit.
“Tidak apa-apa kok, Dhit…” kata Donna sambil matanya nenatap Adhit dengan pandangan yang berbeda.

Ketika kaki Adhit menyentuh kakinya, seperti terasa ada sesuatu yang berdesir dari kaki yang tersentuh sampai ke hati. Donna merasakan sesuatu yang lain akan kejadian tak sengaja itu.. Tiba-tiba Donna merasakan ada sesuatu keinginan tertentu muncul yang membuat perasaannya tidak menentu. Sentuhan kaki Adhit terasa begitu hangat dan membangkitkan suatu perasaan aneh..

“Kamu sudah punya pacar, Dhit?” tanya Donna sambil menatap Adhit.
“Belum tante,” kata Adhit sambil tersenyum.
“Lagian saya tidak tahu caranya mendapatkan perempuan,” ujar Adhit lagi sambil tetap tersenyum. Donnapun ikut tersenyum.
“Pernah tidak kamu punya keinginan tertentu terhadap perempuan?” tanya Donna lagi.
“Keinginan apa tante?” tanya Adhit. Donna tersenyum.
“Kita habiskan dulu makannya. Nanti kita bicara…” kata Donna.

Selesai makan, mereka duduk-duduk di ruang tengah.

“Kamu ada sesuatu yang harus diselesaikan di rumah tidak saat ini?” tanya Donna.
“Tidak ada, tante,” kata Adhit.
“Tadi tante mau tanya apa?” kata Adhit penasaran.
“Begini, apakah kamu suka kepada Dhitita tertentu? Maksud saya suka kepada tubuh Dhitita?” tanya Donna.
“Kita bicara jujur saja, ya.. Saya tidak akan bicara pada siapa-siapa kok,” kata Donna lagi.
“Kamu juga mau kan jaga rahasia pembicaraan kita?” kata Donna lagi.
“Iya, tante,” kata Adhit.
“Kalau begitu jawablah pertanyaan tante tadi…” kata Donna sambil tersenyum.
“Ya, saya suka melihat perempuan yang tubuhnya bagus. Saya juga suka tante karena tante cantik dan tubuhnya bagus,” kata Adhit tanpa ragu.
“Maksudnya tubuh bagus apa,” tanya Donna lagi. Adhit agak ragu untuk menjawab.
“Ayolah…” kata Donna sambil memegang tangan Adhit. Tangan Adhit bergetar.. Donna tersenyum.
“Mm.. Saya pernah.. Pernah lihat majalah Playboy, juga.. Juga.. Juga saya pernah lihat VCD porno.. Mm.. Mm.. Saya lihat banyak perempuan tubuhnya bagus…” kata Adhit dengan nafas tersendat.
“Oh, ya? Di VCD itu kamu lihat apa saja,” kata Donna pura-pura tidak tahu, sambil terus menggenggam tangan Adhit yang terus gemetar.
“Mm.. Lihat orang sedang begituan…” kata Adhit.
“Begituan apa?” tanya Donna lagi.
“Ya, lihat orang sedang bersetubuh…” kata Adhit.

Donna kembali tersenyum, tapi dengan nafas yang agak memburu menahan sesuatu di dadanya.

“Kamu suka tidak film begitu?” tanya Donna.
“Iya suka, tante?” kata Adhit sambil menunduk.
“Mau coba seperti di film, tidak?” kata Donna.

Adhit diam sambil tetap menunduk. Tangannya makin gemetar. Donna mendekatkan tubuhnya ke tubuh Adhit. Wajahnya di dekatkan ke wajah Adhit.

“Mau tidak?” tanya Donna setengah berbisik.

Adhit tetap diam dan gemetar. Wajahnya agak tertunduk. Donna membelai pipi anak tanggung tersebut. Lalu diciumnya pipi Adhit. Adhit tetap diam dan makin gemetar. Donna terus menciumi wajah Adhit, lalu akhirnya dilumatnya bibir Adhit.. Lama-lama Adhitpun mulai terangsang nafsunya. Dengan pasti dibalasnya ciuman Donna.

“Masukkan tangan kamu ke sini…” kata Donna dengan nafas memburu sambil memegang tangan Adhit dan mengarahkannya ke dalam baju Donna.
“Masukkan tangan kamu ke dalam BH saya, Dhit.. Pegang buah dada saya,” kata Donna sambil tangannya meremas kontol Adhit dari luar celana.

Sementara tangan Adhit sudah masuk ke dalam BH Donna dan mulai meremas-remas buah dada Donna.

“Mmhh.. Terus sayang…” kata Donna.
“Tangan saya pegal, tante…” kata Adhit polos.
“Uhh.. Kita pindah ke kamar, yuk…” ajak Donna sambil menarik tangan Adhit. Sesampainya di dalam kamar..
“Buka pakaian kamu, Dhit…” ujar Donnapun melepas seluruh pakaiannya sendiri.
“Iya, tante…” kata Adhit.

Donna setelah melepas seluruh pakaiannya, segera naik dan telentang di tempat tidur. Adhit terkesima melihat tubuh telanjang Donna. Seumur-umur Adhit, baru kali ini dia melihat tubuh telanjang Dhitita di depan mata. Apalagi Dhitita tersebut adalah Dhitita yang sering di bayangkannya bila onani. Kontol Adhit langsung tegang dan tegak..

“Naik sini, Dhit…” kata Donna.
“Iya, tante…” kata Adhit.
“Sini naik ke atas tubuh saya…” kata Donna sambil mengangkangkan pahanya.

Adhit segera menaiki tubuh telanjang Donna. Donna langsung melumat bibir Adhit dan Adhitpun langsung membalasnyanya dengan hebat. Sementara satu tangan Adhit meremas buah dada Donna yang tidak terlalu besar. Sementara kontol Adhit sesekali mengenai belahan memek Donna.

“Ohh.. Mmhh.. Terus remas.. Terus…” desah Donna sambil memegang tangan Adhit yang sedang meremas buah dadanya, dan tangan mereka bersamaan meremas buah dadanya.
“Ohh.. Sshh…” kata Donna. Adhitpun dengan bernafsu terus meremas dan menciumi serta menjilati buah dada Donna.
“Dhit, jilati memek ya, sayang…” pinta Donna.
“Tapi saya tidak tahu caranya, tante,” kata Adhit polos.

“Sekarang dekatkan saja wajah kamu ke memek, lalu kamu jilati belahannya…” kata Donna setengah memaksa dengan menekan kepala Adhit ke arah memeknya.

Adhit langsung menuruti permintaan Donna. Dijilatinya belahan memek Donna sampai tubuh Donna mengejang menahan nikmat.

“Ohh.. Mm.. Ohh.. Terus jilat, sayang…” desah Donna sambil meremas kepala Adhit.
“Dhit, kamu jilati bagian atas sini…” kata Donna sambil jarinya mengelus kelentitnya.

Lalu lidah Adhit menjilati habis kelentit Donna.. Donna kembali menggelepar merasakan nikmat yang teramat sangat.

“Teruss.. Sshh.. Ohh…” desah Donna sambil badannya semakin mengejang.

Pahanya rapat menjepit kepala Adhit. Sementara tangannya semakin menekan kepala Adhit ke memeknya. Tak lama..

“Ohh…” desah Donna panjang. Donna orgasme.
“Sudah, Dhit.. Naik sini,” kata Donna.

Adhit lalu menaiki tubuh Donna. Donna lalu mengelap mulut Adhit yang basah oleh cairan memeknya. Donna tersenyum, lalu mengecup bibir Adhit.

“Mau tidak kontol kamu saya hisap,” kata Donna.
“Mau tante,” kata Adhit bersemangat.
“Bangkitlah.. Sinikan kontol kamu,” kata Donna sambil tangannya meraih kontol Adhit yang tegang dan tegak.

Adhit lalu mengangkangi wajah Donna. Donna segera mengulum kontol Adhit. Tidak hanya itu, kontol Adhit lalu dijilat, dihisap, lalu dikocoknya silih berganti. Adhit tubuhnya mengejang menahan rasa nikmat yang teramat sangat. Tangannya berpegangan pada pinggiran ranjang.

“Ohh.. Tantee.. Enaakk…” jerit kecil Adhit sambil memompa kontolnya di mulut Donna.
“Masukkin ke memek, sayang…” kata Donna setelah dia beberapa lama menghisap kontol Adhit.

Adhit lalu mengangkangi Donna. Sementara tangan Donna memegang dan membimbing kontol Adhit ke lubang memeknya.

“Ayo tekan sedikit, sayang…” kata Donna.

Adhit berusaha menekan kontolnya ke lubang memek Donna sampai akhirnya.. Bless.. Bless.. Bless.. Kontol Adhit berhasil masuk dan mulai memompa memek Donna. Adhit merasakan suatu kenikmatan yang tiada tara pada batang kontolnya.

“Bagaimana rasanya, Dhit?” tanya Donna sambil tersenyum dan menggoyang pantatnya.
“Ohh.. Sangat enakk, tanttee…” kata Adhit tersendat sambil memompa kontolnya keluar masuk memek Donna.

Donna tersenyum.. Setelah beberapa lama memompa kontolnya, tiba-tiba tubuh Adhit mengejang. Gerakannya makin cepat. Donna karena sudah mengerti langsung meremas pantat Adhit dan menekankannya ke memeknya. Tak lama.. Crott.. Croott.. Croott.. Croott..

“Ohh.. Hohh…” desah Adhit. Tubuhnya lemas dan lunglai di atas tubuh Donna.
“Udah keluar? Bagaimana rasanya?” tanya tante Donna sambil memeluk Adhit.
“Sangat enak, tante…” kata Adhit.

rekan kerjaku nadya bersetubuh

Semenjak kedatangannya, suasana kantor agak berubah. Orang2 jadi semakin rajin, entah mengapa. Dia bukanlah direktur yang baru, bukan pula sekretaris baru yang seksi. Namanya Nadya. Perempuan berumur 27 tahun ini disukai sekaligus dibenci. Disukai karena kerjanya cepat dan sangat efektif, serta sangat cerdas, tetapi disisi lain dia selalu mengeluh dan memarahi kami karena keterlambatan kami atau hal2 sepele lainnya.

Nadya bukanlah direktur, juga bukan senior designer. Posisinya sama denganku, junior designer. Yang membedakannya denganku dan beberapa teman lainnya adalah, Nadya lulusan universitas kenamaan di Amerika Serikat, dengan prestasi cum laude. Selain itu Nadya juga keponakan dari Owner perusahaan desain interior ini. Berdarah Jawa- Belanda, dengan tampang indo layaknya model2 catwalk, rambut hitam panjang, dengan kacamata tipis dan pakaiannya yang selalu modis, sudah barang tentu lelaki menyukainya. Namun entah kenapa kami malas untuk akrab dengannya, selain karena sikapnya yang selalu ketus dan tidak bersahabat itu, juga karena kami merasa tidak selevel dengannya. Apalagi kebanyakan dari kami adalah lulusan universitas lokal, dan sewaktu kuliah, membolos sudah jadi makanan kami (tidak bisa nyontek di kuliah desain interior). Walaupun kami datang dari universitas mentereng, tetap saja tidak bisa membandingkan diri kami dengan Nadya.

Aku sendiri berusia 29 tahun, masih jomblo dan belum menikah. Bukan karena aku tidak laku, tapi aku masih agak shock ketika setahun yang lalu pacarku selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Memang mereka tidak melakukan hal2 yang melanggar norma kesusilaan, tetapi jalan dengan laki2 lain dan saling berkirim sms mesra di tengah2 persiapan pernikahan, apa bukan selingkuh itu namanya ?

Teman2ku yang lain sering menggodaku agar aku mendekati dan mencoba akrab dengan Nadya, karena menurut informasi yang beredar, Nadya belum memiliki pacar. Wajar saja hal ini terjadi mengingat yang masih bujangan di kantor ini selain aku dan Nadya, Cuma ada seorang desainer senior yang selalu tidak beruntung dalam masalah percintaan, dan seorang office boy. Aku pun bertanya2 kenapa Nadya tidak laku padahal dia sangat cantik dan pintar. Apa karena sikapnya yang ketus ? atau mungkin saja dia lesbian ? haha.

Minggu ini minggu yang sangat melelahkan. Selain mengerjakan desain interior untuk sebuah mall yang akan dibangun, aku dan Nadya harus rapat sore hari bersama developer sebuah gedung perkantoran. Selama di mobilku, Nadya hanya diam saja, sembari mendengarkan musik di ipodnya. Sudah barang tentu dia pasti tidak akan menjawab jika aku sekedar ingin mengobrol atau berbasa-basi dengannya. Sebab selama ini pembicaraanku dengan dia hanya sebatas pekerjaan saja. Dia juga tidak pernah bergabung dengan orang2 kantor mencari makanan murah disekeliling gedung perkantoran. Entah dia makan dimana, karena menurut para direksi dan senior designer, Nadya tidak pernah makan bersama mereka. Tentu saja, karena walaupun sudah berduit dan lebih berumur dari kami, para direksi dan senior designer pasti mencari makan murah untuk berhemat.

Rapat berlangsung sangat lama. Waktu sudah menunjukkan pukul jam 8 malam. Tetapi Nadya masih berdiskusi dengan pihak pengembang soal konsep desain interior gedung perkantoran itu. Bila rapat dengan rekan yang lain, pasti mereka akan mencari2 alasan atau sengaja mengarahkan pembicaraan agar rapat cepat selesai. Akhirnya rapat selesai juga. Waktu menunjukkan pukul 8.30. rapat berlangsung sangat lancar, dan tidak satupun ucapan Nadya yang dibantah. Harus kuakui gadis ini sangat hebat dalam berargumen.

Jalanan sudah agak lengang karena jam macet sudah lewat. Aku dan Nadya berada di dalam mobil, menuju ke kantor. Aku membuka pembicaraan.
“Udah malem, di kantor ga ada siapa2, mau cari makan dulu sebelum kembali ke kantor ? “ tanyaku berbasa basi.
“Gak usah, langsung ke kantor aja” jawabnya pelan dan pasti. Tak sampai 5 detik dia langsung memasangkan headset ipod ke telinganya. Buset. Dingin sekali tanggapannya. Yasudah. Aku tidak ambil pusing, dengan buru2 aku segera menyetir mobil ke arah kantor, agar aku bisa cepat pulang dan makan malam.

Kantor kami terletak di sebuah gedung berlantai 7, di daerah yang mentereng di Jakarta Selatan. Kantor Konsultan desain interior kami berada di lantai paling atas, berbagi lantai dengan 3 kantor lainnya. Aku memarkirkan mobilku dengan asal2an di tempat parkir. Tumben, pikirku, para satpam lagi kemana ? aku dan Nadya langsung masuk, menaiki lift, dan kemudian masuk ke kantor. Suasana kantor agak gelap karena memang sudah tidak ada siapapun. Aku mencoba membuka pintu pantry untuk mengambil makanan ringan di kulkas, namun pintu pantry sudah terkunci. Memang kebiasaan office boy kami untuk mengunci semua pintu di kantor kecuali pintu utama, yang biasanya selalu dikunci oleh satpam setelah semua pergi.

Untung saja pintu belum dikunci ketika kami masuk. Entah karena malas atau apa, kami tidak menyalakan lampu utama. Karena besok pagi desain awal hasil rapat sudah masuk ke desainer senior, maka kami membereskan hasil rapat tadi di ruang rapat utama. Nadya bekerja dengan sangat teliti mengetik laporan dengan MacBook nya. Sementara aku mengumpulkan hasil sketsa ‘dan denah ruangan dalam satu bundel, sambil menahan perut lapar dan tak henti2nya aku melihat ke arah jam. Setelah tugasku beres, aku membereskan mejaku, dan bersiap untuk pulang sementara Nadya mem-print hasil ketikannya. Nadya sudah akan pergi ketika aku memasukkan alat tulis ke tasku.
“Aku pulang duluan ya..” Nadya berjalan ke arah pintu. Aku tersenyum sekenanya dan meregangkan tubuh dulu sebelum benar2 akan pulang. Tiba2…

“SHIT !” aku mendengar teriakan Nadya dari arah pintu utama. Aku bergegas berlari ke arah pintu utama. Rupanya Nadya sedang berdiri mematung di depan pintu yang tertutup.
“Kenapa ?” tanyaku heran
“Pintunya dikunci” jawab Nadya sambil menarik2 handle pintu sekuat tenaga.
Sial, pikirku. Rupanya tidak ada satpam di luar itu dikarenakan mereka sedang patroli, sekaligus mengecek adakah orang yang lembur malam ini. Rupanya karena kami berdua tidak menyalakan lampu2 utama, yang menyebabkan ruangan kantor seperti tidak ada orang, mereka mengunci pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Aku mulai panic karena jalan satu2nya keluar dari kantor ini adalah pintu itu. Tangga darurat ada di seberang pintu kantor. Sial. Sekali lagi sial. Semua pintu sudah dikunci. Aku berlari mengintip ke jendela. Sia2. Jendela kantor kami tidak ada yang menghadap ke kantor satpam. Aku blingsatan kesana kemari, dan dengan marah kutendang pintu kaca yang tebal itu. Tak ada reaksi kecuali kakiku sakit. Desain pintu yang kuat agar kantor aman ternyata menjebak kami di kantor

Aku mengeluarkan handphone dari saku celanaku dan menelpon office boy, untuk menyuruhnya kembali ke kantor. Sial sekali lagi. Telponnya tidak aktif. Hebat.

Nadya diam, walau bisa kulihat mukanya memerah menahan marah. Mungkin dia juga ingin cepat pulang, ada janji atau apapun. Tapi Nadya tetap berusaha kalem dengan menelpon pamannya, sang owner perusahaan desain ini. Aku bisa mendengar percakapan mereka.
“Hallo om..”
“Eh Nadya, ada apa ?”
“Om, aku kekunci di kantor”
“Lah kok bisa ? “
Nadya menjelaskan situasinya ke pamannya.
“Waduh…. Gawat juga.. OB nya pun ga bisa ditelpon ?”
“Iya om….”
“Teriak2 gih, coba panggil satpamnya”
Percuma, kupikir. Aku pernah lembur dan melihat kelakuan para satpam itu ketika waktu sudah menunjukkan jam 9 keatas. Setelah patroli dan mengunci pintu2 utama, mereka langsung ke kantor mereka, untuk nonton tv rame2, main kartu, bahkan kadang2 mabuk bareng.
“Ga bisa om…” nada bicara Nadya sudah mulai memelas.
“Hmm… om akan usahakan cari bantuan, tapi om lagi di luar kota sekarang”
“KOK OM GAK BILANG DARI TADI KALAU ADA DI LUAR KOTA ?!?” Nadya meledak. Ditengah kekalutan aku mencoba menelpon semua nomor telpon kantor. Dan sialnya, kebanyakan dari mereka tidak aktif. Ada yang mengangkatnya dengan background suara hingar bingar diskotik dan suara teler ga karuan. Tolol. Di tengah minggu malah dugem. Nadya, terus menekan pamannya. Aku berusaha menelpon semuanya, tetapi entah kenapa sinyal hapeku tiba2 hilang. Aku kalut, mencari telpon kantor. Dan hanya telpon di meja front office saja yang bisa dipakai untuk menelepon ke luar. Aku berlari kearah front office dengan panik. Dan bodohnya tiba2 aku terjatuh tersangkut pojokan meja. Aku jatuh ke meja menimpa telpon kantor. Aku kaget dan langsung bangkit. Berharap telpon tidak rusak. Aku lalu mengangkat telponnya. Ternyata ada nada sambung. Aku mencoba menekan nomer yang kuhapal. Lagi2 sial. Rupanya kejadian tadi menyebabkan tombol 0 rusak dan tidak bisa ditekan. Nomer telpon HP mana yang tidak ada 0 nya ? sedangkan aku tidak punya nomor telpon rumah orang kantor. Ide tiba2 muncul, aku membuka laci front office untuk melihat data nomer telpon pegawai.

SIAL ! SIAL! Lacinya terkunci. Sementara itu Nadya masih menelpon pamannya.
“JADI GIMANA DONG OM ?!?” Bentak Nadya
“Sabar, kamu sama siapa disana ?”
Nadya menyebutkan namaku.
“Oh… sama dia…. Aman kalau sama dia, Nadya, kamu tunggu besok aja, kamu…” Belum sempat pamannya menyelesaikan kalimatnya, Nadya dengan kesal melemparkan handphonenya ke dinding dan handphonenya hancur berkeping2.

“Kenapa kamu banting ?!?!?” Bentakku
Nadya hanya terdiam. Dia menarik nafas dalam2.
“Telpon kantor ? “ tanyanya pendek
“Rusak” jawabku tak kalah pendeknya.
“Kenapa ?” Mukanya mulai memerah. Matanya berkaca2
“Tadi aku jatuh, telponnya ketindih badanku” Aku menjawab sambil memalingkan muka.

“TOLOL !!” Nadya membentakku dan tangan kanannya mengayun akan menampar pipiku. Dengan tangkas aku menangkap tangannya dan melepasnya kembali.
“Lebih tolol mana sama orang yang ngebanting hape nya sendiri ? “ sindirku.

—– 30 menit berlalu ——-

Ruang rapat penuh asap rokok sekarang. Aku menghisap rokok kretekku dalam2 dan membuang asapnya ke langit2. Nadya duduk di pojokan sambil menghisap rokok mentholnya. Kami sudah saling diam selama 30 menit lebih. Tidak ada alasan bagiku untuk mengobrol dengan wanita judes ini. Bikin pusing. Tapi aku mencoba menengok untuk melihat keadaannya. Khawatir juga. Jangan2 nekat gantung diri.

“Apa kamu lihat2 ?” Nadya membalas tatapanku dengan pertanyaan dingin
“Gw punya mata, boleh dong liat kemana aja” Jawabku tak kalah dingin.
“Ngeri tau gak, berdua doang sama cowok macem kamu”
“Eh…. Lu baru masuk kemaren sore Nad, blom kenal siapa gw..” Aku menatap penuh emosi ke arah Nadya.
“Ah…semua cowok sama aja” Nadya membuang muka
“Apa maksud lu ?” Tanyaku penasaran
“Ah, tau lah….” Jawabnya sembari mematikan rokoknya di pot bunga yang sekarang beralih fungsi sebagai asbak.
“Lo tau kan otak cowok isinya seks melulu ?” Suara Nadya terdengar tidak enak
Aku hanya terdiam.
“Bahaya tau gak berdua doang sama cowok asing. Salah2 gw diperkosa” Nadya berkata ketus
“EH. Sori ya mbak-sok pintar-lulusan luar negri-masuk karena koneksi” Nada bicaraku meninggi. “Biar kata lu cantik, juga, ga bakal ada cowok mau perkosa lo ! Mana ada orang mau merkosa orang ngeselin macem elo !!!” Bentakku.
“Orang yang gak bisa bersosialisasi macem lo ! Orang yang egois ! Ga ada empati sedikitpun sama orang kantor ! Ga ada bagus2nya! Mentang2 ni kantor punya om lu, lu mau seenaknya aja disini ?!?!? “ Aku sudah naik pitam. Tidak mampu menahan kesabaran lagi.

“Ah… “ Nadya tidak bisa berkata2 lagi.
“Enak aja lo bilang gw mau merkosa elo ! mendingan gw tidur ama pecun daripada nyentuh badan lo !” Nafasku habis. Sudah kuluapkan semua kekesalanku kepada Nadya.

Tiba2 Nadya berlutut. Melepas kacamatanya dan mulai menitikkan air mata. Dia membanting kacamatanya dan mulai menangis sesenggukan. Shit. Rupanya kata2ku tadi kelewat kasar. Makin lama tangis Nadya makin keras. Aku pun berlutut mendekatinya dan mencoba memegang bahunya.

“Nadya…. Sorry… mungkin gw terlalu kasar” aku meminta maaf
Nadya menepis tanganku dan terus menangis.
“Nad….” Aku agak membungkuk untuk melihat wajahnya. Tapi tiba2 Nadya memelukku dan menangis di dalam pelukanku. Aku terdiam sembari mengelus2 punggung Nadya. Sekitar 10 menit dia menghabiskan tangisnya di pelukku. Aku yang pegal lalu duduk di lantai bersandar pada dinding. Nadya duduk di sebelahku, dengan pandangan kosong. Tak beberapa lama Nadya memulai pembicaraan.

“Maaf… tadi aku lancang ngecap kamu” katanya pelan
“Gw juga Nad… maaf tadi terlalu kasar” jawabku.
“Aku yang mulai” lanjut Nadya. “Kupikir semua laki2 sama. Baik pada awalnya tapi ternyata brengsek”
“Ah. Semua laki2 brengsek kok Nad” Jawabku
Lalu kami terdiam cukup lama.

“Aku pernah diperkosa” Nadya tiba2 bercerita.
“Eh……” Aku tidak bisa menyembunyikan mimik heran dari mukaku.
“Waktu aku baru kuliah di US, ada kakak kelas yang ngedeketin aku..” Lanjut Nadya
“Dia baik banget, sampe pada akhirnya aku diundang ke pesta di asramanya… Pestanya rame, dan ternyata minumannya beralkohol semua.”
“Aku dibuat mabuk” dia terus bercerita “ Lalu aku dibawa masuk ke kamar, dan disana aku diperkosa olehnya” Nadya menghela nafas panjang dulu.
“Sejak saat itu aku ga pernah percaya sama cowok” Nadia lalu mengambil sebatang rokok menthol dari bungkusnya, meremas bungkusnya yang sudah kosong, lalu melemparkan bungkusnya ke pot bunga. Aku memberikan korek apiku ke Nadya. Nadya lalu menyalakan rokoknya dengan korek milikku.

Aku tidak berani berbicara lagi. Aku tadi telah lancing berbicara seperti itu kepada Nadya.
“Gimana kehidupan cinta kamu ?” tanya Nadya
“Mmmm…” Aku diam tak berani menjawab
“Setelah kejadian itu, aku ga pernah berhubungan sama laki2 lagi” katanya. “Sekarang giliran kamu cerita” Katanya sambil tersenyum kepadaku

Aku sedikit terkejut. Ternyata jika tersenyum Nadya manis sekali. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum semenjak dia masuk kantor.
“Mmmm… Aku harusnya tahun lalu nikah…” jawabku
“Tapi ?” Tanyanya sambil menghisap rokok mentholnya.
“Tunanganku selingkuh” Jawabku pelan. Tak ingin rasanya menceritakan hal tersebut. Aku menarik nafas dalam2 dan memandang ke arah langit2. Nadya tidak menimpali jawabanku. Dia mematikan rokoknya di pot bunga.

Waktu berjalan sangat lama. Aku dan Nadya berbicara tentang banyak hal. Mulai dari jaman kuliah, sma, segala macam. Ternyata Nadya menyenangkan jika diajak bicara. Tak jarang ia tertawa bersamaku, menertawakan kejadian2 konyol di kantor yang terjadi sebelum kedatangannya. Tak terasa sudah jam 12 malam. Aku sangat capek. Aku mencoba tidur. Aku masih bersender pada dinding, sementara Nadya tertidur, dengan menggunakan bahuku sebagai sandaran.

“Dingin……” Nadya tiba2 memelukku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Sebagai lelaki normal, yang sudah lama tidak berhubungan dengan perempuan, aku tiba2 merasa deg2an, dan suhu tubuhku memanas. Aku mengira Nadya bisa merasakannya, karena dia memeluk tubuhku sekarang. “Hmmmm.. jadi yang bujangan di kantor Cuma aku, kamu, sama Pak Yudi ? “ tanya Nadya.
“Iya” jawabku pelan sambil menahan perasaan aneh ini.
“Hehe” Nadya tertawa kecil
“Kenapa ? “ tanyaku.
“Nope… nothing” katanya sambil menahan tawa.
“Well… I guess. Ga ada salahnya kalo satu dari kalian aku pacarin” Nadya melanjutkan ucapannya.
“Oh jadi lu demen ya sama om2 bujangan tua” timpalku
“Haha… enak aja. Coba kamu itung, 45 – 27 = 18, jauh kan umurku sama Pak Yudi” jawabnya
“27 ? Kirain 35…” ledekku.
Nadya berusaha untuk menjewer telingaku tetapi aku menghindar, menangkap tangannya, tetapi aku kehilangan keseimbangan duduk, sehingga aku terjatuh kearah kanan dan tak sengaja menarik Nadya ikut jatuh juga menimpa tubuhku. Aku yang jatuh menyimpang kekanan ditimpa oleh Nadya yang menghadapi telingaku. Akhirnya dia menjewer telingaku tanpa ampun.
“Aduh !. Sakit tau !” Aku berusaha memberontak tapi Nadya malah tertawa2 dan tidak melawan rontaanku. Aku berusaha bangkit tetapi Nadya malah memelukku.

“Aku ingin diperlakukan dengan lembut oleh laki2” bisik Nadya.
Aku memperbaiki posisi jatuhku. Aku tiduran terlentang di ruang rapat, dan Nadya menimpa tubuhku. Aku bangkit, dan Nadya ikut memperbaiki posisinya. Aku kembali duduk, tetapi sekarang Nadya ada di pangkuanku dan tetap memelukku.
“Aku merhatiin kamu terus semenjak pertama kali masuk kantor” Nadya kembali berbisik. “Kamu paling sopan, dan lembut sama perempuan kalo dibandingin sama yang lain”
“Ditambah lagi… kamu belum nikah kan… dan om ku bilang, kamu orang yang baik” Nadya terus berbicara.
“Baru tadi kan bilangnya, gw juga denger” jawabku
“Enggak. Dari awal aku masuk kantor, om udah bilang kalo kamu selain kinerjanya paling bagus, kamu juga sopan, ramah dan orangnya menyenangkan” Nadya membantah ucapanku. “Kayaknya lucu kalau kita pacaran……” Nadya melanjutkan ucapannya.
Aku kaget. Baru pertama kali seumur hidup ada perempuan yang mengatakan ingin kupacari. Dan perempuan itu adalah perempuan yang cantiknya minta ampun seperti Nadya. Aku tak bisa bicara apa2.

Kami berdua saling memandang. Tiba2 entah siapa yang memulai, kami memajukan kepala kami masing2 dan berciuman. Bibir Nadya sungguh hangat. Aku memeluk erat pinggangnya dan Nadya meremas rambutku. Kami berdua berciuman sangat lama. Kurasakan kacamata Nadya menekan2 mukaku. Tapi aku tidak peduli. Bibir kami saling memagut. Lidah kami saling beradu. Aku semakin menguatkan pelukanku. Dan nadya melepaskan ciumannya. Hidungnya beradu dengan hidungku. Dapat kurasakan nafasnya yang panas dan memburu. Nadya melepas kacamatanya dan meletakkannya di sembarang tempat. Tanpa terasa Nadya membuka kancing bajuku. Dia melakukannya sambil menciumi leherku. Agak sulit membuka kancingku dalam keadaan seperti itu, tetapi Nadya cuek.

Aku tak mau kalah. Kulepaskan leherku dari jangkauan bibir nadya, dan mulai meraih kancing kemejanya. Tak berapa lama bajunya terbuka. Tanpa diminta Nadya membuka ikat pinggangnya dan melepas celananya. Didepanku berdiri perempuan blasteran Jawa-Belanda, dengan kulit yang putih dan mulus, hanya memakai pakaian dalam berwarna merah menyala. Aku menelan ludah, melihat tubuh Nadya yang indah, bagaikan model catwalk yang langsing dan proporsional.

Nadya kembali menyerangku. Bibir kami kembali saling berciuman, tanpa sadar tanganku mengarah pada buah dada Nadya. Aku meremasnya dengan lembut. Buah dadanya yang proporsional terasa sangat empuk di tanganku. Aku dengan cepat menyisipkan tanganku ke dalam BHnya. Nadya tiba2 memegang pergelangan tanganku. Dia menahan tanganku dan seakan menyuruhku untuk mundur. Setelah aku menarik tanganku kembali, tangan Nadya mengarah ke punggungnya, dan dia melepas pengait BHnya, melepas BH nya sendiri. Nadya tersenyum kepadaku dan berkata “Kenapa melongo gitu…. Kayak orang bego tau….” Aku malu sendiri dan membuang muka.

Nadya memegang pipiku, dan kemudian tangannya menyusuri badanku, untuk kemudian membuka ikat pinggangku. Aku pasrah, dan Nadya pun menciumi badanku mulai dari leher sampai ke perutku. Aku kaget saat tangan Nadya masuk ke celana dalamku dan menggenggam penisku. Nadya lalu mengoral penisku. Aku sedikit kaget, karena tidak terbiasa dengan oral seks. Pada saat dengan tunanganku dulu, boro2 oral seks, pegang2 sedikit saja sudah kena marah. Padahal aku bukan orang yang tanpa pengalaman seks. Sebelum berpacaran dengannya, aku beberapa kali melakukannya dengan pacar2ku yang dulu.

Aku meringis menahan geli akibat permainan lidah Nadya. Dia sangat pintar memainkan penisku dengan mulutnya. Tindakannya bervariasi, tidak hanya mengulumnya, tetapi juga dengan menciumi bagian2 yang sensitive dan memainkan lidahnya di kepala penisku. Kupikir, sebelum kejadian perkosaan yang menimpanya di US, Nadya sudah sangat berpengalaman dalam hal ini.

Aku kaget dan berusaha menahan kepala Nadya ketika kurasakan spermaku hampir keluar. Nadya tampaknya mengerti dan menghentikan kegiatannya. Dan dalam beberapa menit kemudian, Nadya menanggalkan semua baju dalamnya, begitu juga denganku. Badan telanjang kami berdua bergumul di lantai ruang rapat. Saling berciuman, berpelukan dan menikmati keindahan tubuh masing2.

Hingga pada akhirnya Nadya telentang di atas karpet, kepalanya tepat berada di bawah kepalaku. Mataku memandang lekat2 matanya yang indah.
“Nad…”
“ya…. “ jawabnya
“Are you sure you want to do this ?” tanyaku
“Why did you ask ?” katanya sambil tersenyum.
“We’re already gone too far” lanjutnya. “and now I consider you as my lover though” senyum tipisnya meluluhkan hatiku. Aku mencium keningnya. Kedua kaki Nadya tanpa disuruh kini telah melingkari pinggangku. Kami berciuman dengan hangat. Kedua tangannya melingkari leherku. Kudekatkan penisku ke mulut vaginanya yang mulai terasa basah. Pelan2 aku menggesekkan penisku di mulut vaginanya, mencari jalan masuk. Tetapi tiba2 otot vaginanya menegang, seakan menolak penisku untuk masuk. Aku terdiam dan memandang wajahnya, aku takut dia masih trauma akibat kejadian di US itu.

“It’s okay….” Nadya mengisyaratkan bahwa dia tidak apa2.
Nadya membuka pahanya sedikit lebih lebar lagi dan dia tampak mencoba untuk rileks. Pelan2 kudekatkan kembali kepala penisku di bibir vaginanya. Kepala penisku sudah mulai masuk. Aku mulai menggerakkan penisku maju mundur, walaupun baru sedikit yang masuk. Perlahan namun pasti, penisku semakin masuk kedalam lubang vaginanya.

“aah….. “ Nadya mengerang pelan dan agak meringis ketika penisku masuk sepenuhnya ke dalam vaginanya. Aku menggerakan penisku maju mundur dalam posisi misionaris.
“Mmmhhh… sayang… pelan2 “ Nadya mengingatkanku untuk tidak bergerak terlalu cepat. Dinding vaginanya seakan memijat2 batang penisku dengan lembut. “Aahhh… sayang… mmmhhh….. uuhhh…” Nadya mengerang, menandakan dia mendekati orgasme. Tetapi aku tidak ingin malam ini berakhir secepat itu. Aku menghentikan gerakanku, dan ketika Nadya akan membuka mulutnya untuk bertanya, aku langsung meraih pantatnya dan menggendongnya. Aku kemudian duduk di kursi rapat dan menaikkan badan Nadya di pangkuanku. Nadya mulai berpegang pada pundakku. Dia mengerti dan segera menaikkan pantatnya, lalu dengan pelan2 dia mengarahkan lubang vaginanya ke kepala penisku. Nadya bergerak naik turun di pangkuanku. Vaginanya terus2an memijat2 batang penisku dengan lembut.

Aku memegangi pinggangnya. Nadya menghentikan gerakannya dan berbisik lembut kepadaku. “Sayang… kalo udah mau keluar bilang ya…. Aku gak mau kamu keluarin disitu…” aku mengiyakannya dan dia mulai kembali beraksi. Goyangannya tidak liar dan asal, tetapi begitu rapih. Begitu elegan dan anggun. Suara erangan kami memenuhi ruang rapat. Kami sudah tidak peduli lagi tentang kemungkinan satpam kembali lagi keatas dan menolong kami yang terkunci. Aku sudah tidak berpikir lagi untuk kembali menelpon orang kantor, atau mencoba mendobrak pintu pantry dan keluar lewat tangga darurat.

Yang ada dipikiranku hanyalah Nadya. Rasanya tidak percaya gadis yang tadinya cuek dan judes kepadaku ini bisa ada dipelukanku sekarang.

“Mmmmmhhh….” Nadya agak menggelinjang.
“Aaahhh…..” Nadya kembali bersuara
Aku bisa merasakan Nadya akan mengalami orgasme, karena selain merasakan gelinjangan tubuhnya, aku pun merasakan vaginanya makin menjepit penisku. Aku pun mengimbangi dengan menggerakkan pantatku.naik turun di kursi itu. Kursi yang biasanya dipakai rapat itu menjadi saksi bisu percintaan kami.

“Sayang……. Ahhhhh….” Nadya pun makin mempercepat gerakannya. Aku lalu bangkit sambil menggendong Nadya. Aku mendudukkan Nadya di meja rapat, Nadya tetap memelukku, dan aku terus menggerakkan penisku maju mundur.

“Uuuhh…. Uhhhh…. Sayang……. Aku mau…. Ahhhhh….” Nadya menggelingjang dengan hebatnya… “Tahan sedikit… aku juga mau…..”
“Ahhhhh…..” paha Nadya mencengkram pinggangku dan kepalanya mendongak keatas. Mengerang nikmat menandakan bahwa dia sudah orgasme. Aku terus menggerakkan penisku, dan…”Nadya…. Ahhh…..” Nadya jatuh telentang di meja rapat dan aku mencabut penisku dari lubang vaginanya. Sperma segera berhamburan dari penisku. Nadya segera bangkit dan memelukku. Kami berpelukan erat. Tidak berciuman, tidak melakukan apapun. Hanya berpelukan selama beberapa lama tanpa berbicara apa2. Nadya lalu melepaskan pelukannya dan turun dari meja. Dia lalu mencium pipiku lembut, kemudian dia mulai memakai kembali bajunya.

Aku masih berdiri telanjang dan tertegun. Melihat Nadya yang bagaikan malaikat itu memakai bajunya satu persatu.
“eh… pake baju dong…. Ntar keburu pagi” Nadya mengingatkanku
Aku segera mengenakan kembali bajuku. Aku kembali mencoba tidur dengan bersandar di dinding. Nadya kembali pada posisinya, bersandar di bahuku.

Singkat cerita pagi pun datang. Kami berhasil keluar jam 7 pagi. Hari itu kami berdua sengaja diliburkan karena kejadian konyol itu. Selanjutnya bisa ditebak. Nadya mulai terbuka pada orang2 kantor. Dia sudah bisa berkomunikasi dengan akrab, dan sinisnya makin lama menghilang. Ditambah lagi ketika kini kami sudah berpacaran. Nadya menjadi ceria dan orang2 kantor tampak takjub melihat perubahan itu.

One thing leads to another. Dan sekarang, setelah kegagalan pernikahanku yang dulu, setelah beberapa lama berpacaran, aku akan mempersiapkan pernikahanku dengan Nadya.

pembantuku bekas pelacur

Setelah sekian lama saya mengikuti cerita di homepage ini, rasanya saya juga ingin berbagi pengalaman antara sesama pencinta cerita Rumah Seks, mungkin pegalaman ini layak di ketahui para pembaca cerita Rumah Seks.

Saya tinggal sama ibu, bapak, adik, dan juga kakak saya. Di rumah saya juga ada seorang pembantu yang baru diambil ibu untuk bantu-bantu di rumah, pembantu ini menginap dan tidur di kamar belakang. Mukanya lumayan cantik, dan juga bentuk bodinya wooii seksi sekali, rasanya tidak layak menjadi seorang pembantu, setidaknya sekretaris di kantorlah.

Biasanya sebelum tidur saya baca buku porno sambil onani dan membayangkan yang nggak-nggak, kadang-kadang saya membanyangkan main sama Desy Ratnasari, Krisdayanti, dll. Kalau mut saya kambuh, saya langsung setel itu VCD di komputer saya yang saya pinjam dari tempat sewa, di situ saya mulai onani dan sampai kadang-kadang saya nggak bisa tidur lagi, jadi bawaannya mau onani melulu, saya bisa sampai 10 kali dalam sehari, kalau memang nafsu saya memuncak.

Waktu itu nafsu memuncak, saya pelan-pelan bangun jam 12 malam, dan buka komputer langsung stel VCD porno, tapi bertepatan dengan itu si pembantu saya (namanya: Dewi), itu keluar mau minum, lalu si Dewi melihat ada lampu bohlam menyala di atas, dan si Dewi beranjak ke atas, selangkah demi selangkah tanpa saya sadari. Dan melihat saya lagi memegang penis saya dan lagi serunya lihat VCD, lalu Dewi mendekati saya dan berkata:
“Blom tidur, Mas Philip?” sambil mendekat ke arah saya.
“Nggak bisa tidur”, jawab saya sambil saya melihat payudara besar itu.
“Itu film porno ya, jorok ih”, ujarnya sambil duduk di samping saya.
“Benar, tapi suka khan?” sambut saya sambil melihat ke arah mukanya.
“Ih nggak lha yau?” jawabnya dengan tanpa basa basi.

Lalu saya sama dia terus bercanda-canda sambil nonton film porno, saya mulai pegang tangannya, dan juga langsung saya rembet ke pinggul langsung ke payudara, tapi herannya ini orang malah senang, cuma berkata “Ihk genit amat sih”, sambil tersenyum. Penis saya sudah tegang dan payudara yang besar itu juga sudah semakin membesar serta vagina yang basah seperti air terjun. Lalu saya mendekati dia memegang mukanya dan perlahan-lahan saya cium pipinya lalu merembet ke bibirnya yang seksi itu, setelah saya memasukkan mulut saya ke bibir dia, dengan kerasnya dia menarik kepala saya, masuk ke dalam supaya ciumnya lebih nikmat dan lebih dalam. Dalam hati saya, ini orang benar-benar sudah professional padahal seorang pembantu? Lalu sambil ciuman saya pegang buah dada yang sebesar kepala saya sendiri, setelah itu saya mau buka baju, tapi langsung tangannya menahan saya dan bilang, “Jangan di sini nanti ketahuan sama ibu.”

Lalu sambil ciuman saya beranjak ke kamar saya, dan perlahan-lahan sambil saya “cipokan” sama dia saya juga buat cupangan di lehernya dan perlahan-lahan langsung dibuka bajunya dan roknya, sekarang tinggal BH dan celana dalamnya, diam-diam langsung saya cium dan kecup BH-nya dan saya lihat wah betapa indah pentilnya yang hitam itu langsung saya hisap dan dia merintih, “Ahh.. seiiss.. nikmat.. akh..”, sambil memegang penis yang masih pakai tapi sudah tegang. Langsung saya buka celana, baju dan semuanya begitu juga dengan dia, dan saya lihat oh betapa indahnya tubuh dari orang ini, benar-benar ini hari yang menyenangkan bagi saya. Langsung saya ajak dia tiduran sambil mencium payudaranya yang sekal itu dan saya perlahan-lahan memasukan jari ke vaginanya dan dia menjerit kesakitan tapi nikmat, dan dia berkata “Jangan pakai tangan, pakai penis lebih nikmat”, lalu tanpa basa basi saya mulai memasukan itu penis ke vaginanya yang sudah basah itu, tapi sayangnya saya suka banget sama onani jadi terpaksa permainan itu sebentar dan tidak lama, tapi dia juga menikmatinya.

Selesai dari itu dia tiduran di bahu saya dan berkata, “Suka main dimana?” lalu saya menjawab, “Baru pertama sama situ”, dia nggak percaya, dan saya bilang “Iya benar selama ini mau main tapi takut HIV, tapi sekarang mah nggak takut lagi.” Lalu dia berkata, “Saya sebenarnya ke sini ingin bekerja, karena kerja saya yang dulu kotor”, dengan polosnya dia berbicara. Saya tanya, “Kotor bagaimana?” “Iya saya pernah menjadi seorang pelacur di diskotik TOPONE”, lalu saya belai rambutnya sambil mengatakan dalam hati, “Pantas kayaknya kok professional sekali ini orang.”

Lalu saya setiap hari terus main dan main terus, sampai saya konsultasi sama teman-teman saya yang doyan seks bagaimana supaya saya tahan lama, dan mereka memberikan solusinya, sampai sekarang dia sangat menikmati kepedihan penis saya yang begitu dashyat. Sampai saat ini saya melakukannya setiap malam, cuma pada waktu dia haid saya tidak melakukannya. Pokoknya saya makin betah di rumah dan main terus sama ini orang, sudah GRATIS nikmat lagi.

mbak marni dukunku

Cinta ditolak dukun pun bertindak. Yah.. Pepatah itulah yang cocok dengan keadaanku. Gara-gara dicampakkan oleh wanita, akhirnya aku menempuh cara sesat untuk mendapatkan keinginanku.

Oh ya sebelumnya perkenalkan dulu, namaku Aryo, bujangan desa Klithikan, Tegalgondho, Klaten. Sudah tiga tahun ini aku naksir dengan Ningsih, cewek yang menjadi kembang di desaku. Segala cara aku lakukan untuk memikatnya. Sampai akhirnya, aku beranikan diri untuk menyatakan cintaku. Tepat saat bulan purnama malam selasa kliwon aku ungkapkan seluruh perasaanku padanya. Namun harapan tinggallah harapan. Jawaban yang keluar dari mulut Ningsih tidak sesuai dengan keinginanku.

“Maaf, Kang, Ningsih selama ini hanya menganggap Kang Aryo seperti kakak sendiri, tidak lebih!” begitu jawaban Ningsih. Saat itu jantungku terasa seolah-olah berhenti, tubuhku lemas, kedua kakiku terasa lumpuh. Dalam hati aku bersumpah akan mengejar dan mendapatkan Ningsih meskipun harus sampai ke kolong neraka sekalipun.

Dua minggu berlalu, aku terus berpikir bagaimana cara mendapatkan cinta Ningsih. Sampai akhirnya aku sowan ke Mbak Marni. Janda kembang berumur 32 tahun dengan profesi dukun beranak sekaligus seorang paranormal. Dengan sabar Mbak Marni mendengarkan semua curahan hatiku. Senyum dan tatapan matanya yang teduh membuatku leluasa menceritakan kisahku.

“Aku paham dengan semua yang kau rasakan.” Mbak Marni membuka pembicaraan.
“Menurut pandangan bathinku Ningsih bukan jodohmu.”
“Tapi Mbak, aku nggak peduli, pokoknya aku harus mendapatkannya” sergahku.
“Ehm, ternyata kau orang yang keras kepala juga, ya?” jawab Mbak Marni dengan tersenyum.
“Baiklah jika engkau terus bersikukuh dengan keinginanmu, aku tidak bisa menentangnya, namun aku akan tetap membantumu.”

Sesaat kemudian dia beranjak dari beranda rumah tempat kami mengobrol sejak tadi. Kupandangi sosok tubuhnya yang masih kelihatan padat berisi dan montok. Pantas saja dijuluki janda kembang, pikirku.

“Aryo, kemari cah bagus!” terdengar suara dari dalam rumah. Mbak Marni memintaku masuk. Dia memegang satu botol kecil cairan kental putih, dan menyerahkannya padaku.
“Apa itu, Mbak?” tanyaku.
“Buka dan ciumlah baunya, kau pasti mmengetahuinya. Aku pun menuruti perintahnya. Sesaat bau amis merebak di seluruh ruangan.
“Seperti bau.. bau.. air mani.” celotehku.
“Yang kau katakan itu benar, Aryo, itu adalah air mani. Namun itu bukanlah sembarang air mani, itu adalah hasil ritual ilmu pelet nguyup pejuh” jelas Mbak Marni.
“Ilmu ini adalah salah satu ilmu pelet terdahsyat dan hanya dapat ditandingi oleh ilmu jaran goyang.” jelasnya.
“Sekarang engkau pulanglah, besok pada saat malam bulan purnama datanglah lagi ke rumahku, akan kuturunkan ilmu ini padamu.” Setelah berpamitan, kutinggalkan rumah Mbak Marni, aku melangkah dengan harapan yang baru. Dalam benakku Ningsih seolah-olah sudah berada dalam genggamanku.

Malam yang ditunggu pun tiba juga. Dengan cepat kuayunkan langkahku menuju ke rumah Mbak Marni. Sesaat kemudian sampailah aku di rumahnya. Kuketuk pintu rumah itu.

“Aryo, masuklah. Kutunggu kau di kebun belakang rumah.” ternyata itu suara Mbak Marni. Aku pun heran, mengapa dia menungguku di kebun belakang rumah.

Dengan melewati beberapa parit kecil dan tanah becek, aku pun sampai di sebuah kebun. Namun ini seperti bukan sebuah kebun, melainkan lebih seperti lapangan kecil. Dari kejauhan aku melihat sosok manusia di kegelapan. Ya, itu Mbak Marni, namun ada yang aneh dengan pakaian yang dikenakannya. Jujur saja dia hanya mengenakan kain mori putih tipis yang dililitkan di tubuhnya.

Sejenak darah mudaku berdesir melihat pemandangan itu. Bagaimana tidak, kain itu seperti tidak muat menutupi tubuh Mbak Marni yang sekal dan montok, seolah-olah buah dadanya yang besar akan tumpah keluar, sedangkan bagian bawah kain tersebut hanya menutupi 30 cm di atas lututnya. Aku pun baru tersadar, Mbak Marni ternyata memiliki tubuh yang tidak kalah dengan bintang-bintang top Bollywood.

“Aryo!” Mbak Marni memecah lamunanku.
“Malam ini aku akan ajarkan ilmu pelet nguyup pejuh padamu. Namun sebenarnya ilmu ini hanya untuk orang dewasa. Soalnya nanti kau akan melihat dan melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh orang dewasa.” Perkataan Mbak Marni membuat jantungku berdegup kencang.
“Aryo, ilmu ini terdiri dari tiga bagian, kita lakukan bagian yang pertama dulu. Kau lihat baik-baik gerakanku! Namun sebelumnya buka seluruh pakaianmu dan pakailah ini.”

Lalu Mbak Marni menyodorkan secarik kain putih yang di kedua ujungnya terdapat tali sehingga bentuknya seperti cawat. Aku pun menuruti perintahnya. Kulepas semua pakaianku, hingga hanya secarik kain ini yang menutup tongkolku.

Bagian pertama ilmu ini pun dimulai. Mbak Marni mulai memperagakan gerakannya. Di bawah sinar bulan purnama, Mbak Marni seperti bidadari yang sedang menari. Gerakan yang diperagakannya sangatlah erotis, hingga aku berpikir sepertinya dia sedang mencoba membangkitkan gairah birahiku. Aku pun semakin tidak tahan melihat gerakan erotisnya hingga tongkolku akhirnya bangun juga. Berbagai cara kulakukan untuk menidurkan kembali tongkolku namun selalu gagal.

“Aryo, bagian pertama selesai.”

Mbak Marni menyudahi gerakannya. Dengan bermandi keringat dia mendatangiku. Kain yang melilit tubuh Mbak Marni yang basah menempel di kulit tubuhnya sehingga terlihat jelas setiap lekuk tubuhnya. Dan aku dapat memastikan bahwa selain kain yang melilit tubuhnya, Mbak Marni tidak memakai BH dan celana dalam karena saat itu juga kulihat ada bayangan puting susu yang mencuat di kedua payudaranya sekaligus ada seberkas bayangan hitam di bawah pusarnya. Aku pun semakin bingung melihat semua itu hingga tongkolku pun semakin mengeras, apalagi ketika mata Mbak Marni dari tadi terus mengamati keadaan tongkolku yang tegang terbungkus kain itu.

“Hm, besar juga.” seloroh Mbak Marni.
“Eh, apa Mbak?” tanyaku salah tingkah.
“Itu, burung kamu” jawabnya singkat.
“Aryo, kamu tidak perlu malu, dan tidak perlu menutupinya karena itu berarti kamu sudah dewasa, seharusnya kamu bangga.” jelas Mbak marni.

“Aryo, di bagian kedua nanti kau harus mengikuti semua perintahku. Aku akan memperlihatkan segalanya kepadamu.” jelas Mbak Marni lagi.
“Apa maksudnya, Mbak?” aku pun semakin bingung.
“Simpan pertanyaanmu! Ayo ikuti aku, Aryo!” Lalu kami pun meninggalkan tempat tadi. Mbak Marni mengajakku masuk hutan.
“Kita akan kemana, Mbak?” tanyaku.
“Kita akan ke Candi Ireng.”

Candi Ireng adalah tempat keramat di desa kami tidak sembarang orang bisa mendekatinya. Akhirnya kami pun sampai di Candi Ireng. Candi itu keadaanya sangat tidak terawat, banyak lumut tumbuh di sana-sini. Di depannya, tepatnya di bagian serambi seperti ada altar untuk penyembahan.

“Aryo bagian kedua dari ilmu ini memang agak menjijikkan, namun aku jamin kau akan suka.” jelas Mbak Marni dengan senyum menggoda. Kemudian Mbak Marni mendekatiku, ia berada persis di depanku.
“Namun sebelumnya aku ingin jelaskan tentang letak titik cakra manusia, Aryo. Titik cakra itu akan diaktifkan pada ritual kedua ini. Aryo, pada wanita, titik cakra terletak pada kedua payudara dan kelentit atau klitoris pada vaginanya.”
“Biar kutunjukkan padamu!” lanjutnya.

Dengan tanpa malu-malu, Mbak Marni melepaskan satu-satunya kain yang menutupi tubuhnya hingga tidak ada satu benang pun yang melilit tubuhnya. Aku pun diam terpaku melihat kenyataan itu. Bagaimana tidak, baru kali ini aku melihat tubuh orang dewasa yang telanjang bulat. Bagian tubuh yang tadi samar-samar terlihat, kini lebih jelas. Kedua buah dada Mbak Marni yang besar, montok dengan kedua puting yang mencuat menantang berwarna kemerahan. Sedangkan bagian di bawah perutnya tampak rambut hitam yang lebat.

“Pegang ini Aryo!” Mbak Marni menyuruhku memegang kedua payudaranya yang besar. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Kupegang dengan lembut kedua bukit yang mencuat itu. Kuraba perlahan dan kurasakan bagian putingnya yang mengeras, dan dengan spontan aku meremasnya.
“Akh, kamu nakal ya, Aryo!” desahnya genit.
“Nah, untuk cakra yang kedua adalah bagian ini, aku bantu kau untuk menemukannya”, lanjutnya.

Mbak Marni kemudian tidur telentang di atas altar, keadaannya seperti bayi yang baru lahir. Kedua pahanya dibuka, sehingga tampak sebuah lubang yang menganga dengan rambut yang tumbuh lebat di sekelilingnya.

“Mendekatlah Aryo, coba cari cakra yang kedua.” perintah Mbak Marni sambil kedua jarinya membuka vaginanya.
“Di bagian atas Aryo, yang menonjol kecil itu!” teriaknya.

Aku pun melaksanakan perintahnya, kusentuh bagian tonjolan kecil di vaginanya, kemudian kupermainkan. Mbak Marni pun menggelinjang seperti orang kesurupan sambil sekali-kali menggigit lidahnya. Aku yang semakin terbakar birahi mulai mencium memiawnya, tanganku pun spontan bergerilya meremas-remas payudara Mbak Marni yang kini ukurannya semakin menakjubkan.

“Sst.. Akh.. Aryo!” desah Mbak Marni. Sesaat kemudian karena asyik menjilati kemaluan Mbak Marni, aku tidak sadar bahwa ada cairan bening menetes dari memiaw Mbak Marni.
“Ar.. yo.., se.. bentar la.. gi a.. ku a.. kan or.. gas.. me, ka.. mu ha.. rus siap ya, ah..!” desahnya lirih terputus-putus.
“Siap apa Mbak?” tanyaku sambil terus meremas dan mempermainkan putingnya.
“Mi.. num semua cai.. ran kemalu.. anku karena ini adalah sya.. rat bagi.. an ke.. dua!”

Benar juga, sesaat kemudian ada cairan yang menyemprot dari lubang kelaminnya. Aku pun segera menghisap seluruh cairan kental itu, rasanya agak asin dan amis namun aku tidak peduli hingga kuhabiskan semua cairan itu dan sesekali aku menjilati cairan yang masih menempel di rambut vaginanya.

“Cukup Aryo!” sergah Mbak Marni sambil terengah-engah. Kemudian dia pun bangkit dari posisinya. Ia kemudian membersihkan kemaluannya yang basah.
“Sekarang kita melakukan bagian ketiga, Aryo. Sedangkan titik cakra laki-laki adalah pada air mani yang dikeluarkannya. Sekarang giliranmu melepaskan kain itu!” perintahnya sambil terengah-engah.

Aku segera melepaskan kain yang menutup tongkolku. Di hadapan Mbak Marni aku tidak malu-malu lagi. tongkol yang tadi seperti terbelenggu kini dengan bebasnya berdiri tegak.

“Sekarang keluarkan air manimu dan letakkan dalam botol kecil ini.” perintahnya.

Aku segera mengocok tongkolku sambil melihat tubuh telanjang Mbak Marni yang duduk sambil membuka pahanya. Sesaat kemudian, crut.. crut! Cairan putih keluar dari kemaluanku dan kutampung hingga sebentar saja botol itu sudah penuh. Mbak Marni tersenyum dan ia segera bangkit dari altar tempat ia duduk.

“Aryo, prosesi ritual telah selesai, sekarang kenakan kembali kain itu!” perintah Mbak Marni sambil mengenakan kembali kainnya.
“Ilmu pelet ini sudah kamu dapatkan, tinggal oleskan pada tubuh Ningsih, maka dia akan tergila-gila padamu.”
“Sekarang ayo kita pulang!”

Akhirnya kami pun meninggalkan candi dan seluruh prosesi ritual. Sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku aku masih penasaran. Aku sebenarnya masih ingin menikmati tubuh Mbak Marni yang sintal. Namun aku tahu bahwa Mbak Marni adalah seorang yang professional, dia tidak akan melakukan sesuatu di luar tugasnya.

Esoknya, ilmu yang baru kuperoleh tadi segera kuterapkan pada Ningsih. Dan benar, dia kemudian tergila-gila padaku dan bahkan sampai menyembah-nyembah minta dikawini. Aku pun lega, tidak lupa aku ucapkan terima kasih pada Mbak Marni atas segala bantuannya dan segala pengalaman mendebarkan yang diberikannya selama ritual “Ilmu Pelet Nguyup Pejuh” itu.

sex Suami ibu angkatq

Aku tinggal dengan ibu angkatku, yang sebelumnya adalah majikanku. Aku berhasil
menyelesaikan sekolahku lewat paket kejar C sehingga paling gak aku punya ijasah
sekolah menengah walaupun tidak melalui sekolah formal. Maklumlah, biaya sekolah
kan mahal sekali, jadi ya dipakailah segala cara dengan biaya minim tapi bisa
mendapatkan ijasah formal. Selanjutnya aku mengambil kursus komputer dan
bahasa inggris. Aku sekarang ini bekerja di satu kantor milik suami ibu angkatku
sebagai tenaga admin. Aku berusaha bekerja sebaik mungkin untuk menunjukkan
pada ke 2 ortu baruku bahwa aku bukan manusia benalu, apa yang aku pake untuk
hidup sebagian adalah hasil jerih payahku sendiri. Mereka menghargai usahaku
untuk terus meningkatkan diri, sehingga praktis tidak ada hambatan yang berarti
dalam bekerja walaupun aku nol pengalaman. Paling tidak gak ada yang komplain
tentang hasil kerjaku selama ini, aku pikir ya memenuhi standardlah hasilnya.
Bapak (suami ibu angkatku) baik kepadaku, selalu memberi perhatian penuh selama
dikantor dan dirumah. Aku tidak merasa ada ketidak wajaran dalam hubungan kami
selama ini. Sampai suatu hari ibu harus menengok sodaranya yang sakit diluar kota
untuk beberapa hari. Tinggallah aku berdua bapak dirumah. Bapak umurnya
memang lebih muda dari ibu, tapi gak kelihatan karena orangnya memang
berwibawa baik dikantor maupun dirumah.

Hari itu jumat malem, kami berdua santai saja sepulang kantor. Bapak mengajakku
makan di resto sebelum pulang, dirumah kan gak ada yang masak, jadi gak ada
makanan. Kalo nasi saja sih aku bisa nyiapin, tinggal masak pake rice cooker.
Lauknya yang aku gak bsa masaknya. Malem itu bapak lebi romantis, sehabis
makan dia mengajakku ke mal, di mal aku digandeng2nya. Dia membelikanku
pakean, satu hal yang gak pernah dilakukan selama ini karena aku selalu membeli
sendiri pakeanku. “Wah bapak kok royal sih malem ini, dah traktir Dina makan, eh
beliin baju lagi”. “Sekali2 kan bole dong, napa kamu keberatan? “Ya enggak lah pak,
masak dimanja2in bapak sendiri keberatan”. “Tu cowok yang sering jemput2 kamu
pacar ya Din?. “Iya pak, gantengkan”. “Gantengan juga aku”, candanya. “Iyalah,
bapak lebih mateng”. “Kalo mateng bentar lagi bonyok dong”. “Kok bonyok pak”.
“Iya pepaya kalo dah mateng kan sering bonyok jadinya kalo dipotong”. Aku tertawa
mendengar candanya. “Kalo jalan ma dia pacaran ya Din”. Aku hanya mengangguk.
“Ngapain ja pacarannya”. “Ih bapak kok nanya2 yang privat si”. “O gak boleh toh,
sori deh”, “Bukannya gak boleh pak, Dina malu ja”. “Napa mesti malu, ya wajarkan
kalo lelaki dan prempuan yang saling suka pacaran, aku cuma pengen tau ja kamu
ngapain kalo pacaran”. “Ya biasalah pak, gimana si kebiasaan orang pacaran”.
“Ciuman?” Aku mengangguk.”Sembari ramah?” “Ramah?” tanyaku gak ngerti. “Iya
pasti cowok kamu ramah deh, kamu kan seksi gini. Rajin menjamah”. Aku tertawa
lagi. “Ramah ya Din”. Aku kembali menggangguk. Memang cowokku kalo ciuman
selalu ngeremes toketku, malah akhir2 ini sering menguyel2 it ilku sampe aku klimax.
“Asik dong, setelah ramah?” aku diem, aku malu kalo harus crita bahwa cowokku
sering ngen totin aku kalo dah sama2 napsu. “Kok diem Din, kamu dah ngelakuin ya
ma cowok kamu”. Aku cuma mengangguk aja. “Gitu ja malu. Kalo dah napsu ya
ngen totlah. Nikmat ya Din”, Aku ucuma mengangguk lagi. “Gede gak kon tolnya”.
Pertanyaannya makin menjurus dan vulgar. “Rasanya gede pak”. “Kok rasanya?”
“Iya kan Dina belon pernah liat yang laen selain punya cowok Dina”. “Kamu
ngelakuinnya dimana” “Dia suka ngajak Dina ke motel pak”. “6 jam dia kuat brapa
kali”. Kok bapak tau kalo sewanya 6 jam, hayoo sering ke motel ya, pasti bawa
abege ya pak”. Giliran dia yang senyum2 saja, dia tidak menjawab malah terus
nanya, “Maennya brapa kali Din”. “Seringnya 2 kali, pernah kalo dianya napsu
banget ampe 3 kali”. “Pake kondom?” “enggak pak”. “Kluar diluar?”. “didalem”.
“Gak takut hamil?” “Dina dikasi obat, kalo lagi subur habis maen Dina minum
obatnya”. “Bukan pil kb ya”. “Bukan pak, katanya obat anti hamil emergency”. “Baru
tau aku, belinya dimana”. “Wah bapak mo ngasi obatnya buat abege yang nemenin
bapak di motel ya”. Dia hanya senyum2 saja. “Kuat juga ya cowok kamu, bisa
sampe 3 kali”. “Iya pak, udahannya Dina ampe lemes deh”. “Tapi nikmat kan”.
“Banget”. “Mangnya dia lama ya maennya”. “Yang ke 2 suka lama pak, Dina bisa
beberapa kali klimax baru dia keluar. Makanya udahannya lemes deh”. “Yang
pertama?” “Suka Dina isep sampe keluar di mulut”. “Kamu telen”. “Iya, disuruh sih,
katanya gizinya tinggi”. “Wah kamu dah pengalaman dong, jadi pengen”. “Pengen
apaan pak?. “Pengen maen ma kamu”. “Loh kok”. “Iya gak apa kan, kamu kan
bukan anak ibu, aku dah lama napsu kalo liat kamu, Kamu tu cantik, toket kamu
lumayan gede lagi, pantes cowok kamu doyan ngeremesnya”. “Bapak ah”. Kami dah
sampe rumah, ngobrol itu kami lakukan sepanjang perjalanan pulang dari mal.

Aku segera masuk kamarku, mandi. Setelah itu aku keluar hanya mengenakan
pakean rumahku, celana pendek dan kaos gombrong. saking gombrongnya sampe
menutupi celana pendekku, kaya daster aja. Kebiasaanku dirumah aku gak pernah
pake bra. Di ruang tengah kulihat bapak sedang duduk santai, dia juga dah mandi,
juga pake celana pendek dan kaos oblong. Dia lagi nonton tv. aku duduk
disebelahnya, “Makasi ya pak buat pakeannya”. “Dah dipas”. “Udah pak, pas
banget”. “Nonton film asik yuk”. “Film apaan pak”. Dia memasukkan dvd ke
playernya dan menjalankannya. Wah film bokep rupanya, abege thailand maen ma
bule. aku tau dari text yang ekluar pake huruf yang kaya cacing gitu. “Punya cowok
kamu segede punya bule itu”. “Ih gede banget ya pak, cowok Dina punya gak
segede itu, jadi kecil kelihatannya kalo dibanding ma si bule”. “Kecil ya kamu dah
terkapar ya Din, palagi yang besar”. Dia mulai memelukku dan mencium pipiku. Geli
rasanya pipiku tergeser kumisnya. Serenade wajib ah uh terdengardari pasangan
yang lagi gelut di dvd. Napsuku mulai bangkit. Tangannya mulai bergerilya ke
toketku, dielus2nya pentilku sehingga menjadi keras. “Din, kamu dah napsu ya, pentil
kamu dah keras”. “Bapak sih nakal”, kataku sambil mencubit pinggangnya. Dia
langsung mencium bibirku sambil meremas2 toketku. Aku terdiam, napasku mulai
memburu terengah. Aku bersandar di dadanya yang bidang. Dia mulai menciumi
leherku sementara kedua toketku terus saja diremes2, sehingga napsuku makin
berkobar. Kembali dia mengecup bibirku. Kubalas dengan ganas. Bibirku
dikulumnya, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tanganku segera turun
mencari k ontolnya. Kuusap2, terasa sekali k ontolnya sudah ngaceng berat, keras
sekali, tanganku tak muat mengenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. “Pak,
gede banget kon tolnya, kaya si bule aja”. “Kalo mo liat, buka ja celanaku”. Segera
celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana pendeknya meluncur ke lantai. k
ontolnya yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD nya. Kami kembali gelut.
Dia terus meremas-remas toketku sementara aku mengocok k ontolnya. “Pak keras
banget”, kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi k
ontolnya. Kubimbing k ontol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah sekali
memasukkannya karena ukurannya. Terasa asin waktu lidahku menyentuh
kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju
-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut aktif mengocok ataupun
memijati biji pelirnya. “Uaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yah”
ceracaunya menikmati emutanku, k ontolnya kujilati seluruhnya kemudian
kumasukkan ke mulutku, kukulum dan kuisep2. Kepalaku mengangguk2 mengeluar
masukkan k ontolnya di mulutku.

Akhirnya dia gak tahan lagi. Aku ditariknya kekamarnya. Dilepaskannya celana
pendek dan kaosku. Aku dibaringkannya diranjang hanya memake cd. Sambil terus
meremas2 toketku tangan satunya nyelip ke balik cd. Otomatis pahaku
mengangkang, sehingga dia dengan mudah mempermainkan jembutku. “Pak, geli”,
erangku. “Geli apa nikmat Din”, tanyanya. “Dua2nya pak, Dina die ntot dong pak,
udah kepengin banget nih”, kataku to the point. CDku diplorotin, aku mengangkat
pantatku untuk mempermudah dia melepas cdku. “Din kamu napsuin banget deh”,
katanya. Dia langsung saja menindihku. k ontolnya diarahkan ke belahan n onokku
yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu dia menekan k ontolnya sehingga kepala
k ontolnya mulai menerobos masuk n onokku. Aku mengerang sambil menggelepar
merasakan kepala kon tolnya yang besar itu menerobos masuk. Baru kepalanya yang
masuk aja dah sesek no nokku jadinya, palagi kalo dia tancepin semuanya. Aku lupa
bahwa yang lagi memasukkan kon tolnya ke no nokku itu adalah suami ibu angkatku.
Lagi nikmat banget mana keinget yang begituan. Dia kembali menciumi bibirku.
Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. Sementara itu dia terus
menekan pantatnya pelan2 sehinggga kepala k ontolnya masuk n onokku makin
dalam dan bless, k ontolnya sudah masuk setengahnya kedalam n onokku. “Aah, k
ontol bapak nikmat banget deh”, erangku sambil mencengkeram punggungnya.
Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga k ontol besarnya langsung
ambles semuanya di n onokku. “Pak, ssh, enak pak, terusin”, erangku. Aku
menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan k ontolnya di n onokku. Aku
mengejang2kan n onokku meremes2 k ontolnya yang sedang keluar masuk itu. “Din,
nikmat banget empotan n onok kamu”, erangnya. Dia memelukku dan kembali
menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi permainan
bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya menerobos masuk
mulutku. Dia mengenjotkan k ontolnya keluar masuk makin cepat dan keras, aku
menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar masuknya k ontolnya di n onokku. Setiap
kali dia menancapkan k ontolnya dalam2 aku melenguh keenakan. Terasa banget k
ontolnya menyesaki seluruh n onokku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin
bernapsu mengenjotkan k ontolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar
pinggangnya, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di n onokku.
Kenikmatan terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan k ontolnya keluar
masuk, akhirnya aku gak tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya terlepas dan
kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan k ontolnya keluar masuk n
onokku dan rasanya masuk lebih dalam lagi. Tidak lama kemudian aku memeluk
punggungnya makin keras “Pak, Dina mau nyampe pak”. “Kita bareng ya Din”,
katanya sambil mempercepat enjotannya. “Pak, gak tahan lagi pak, Dina nyampe
pak, aakh”, jeritku saking nikmatnya. Kakiku kembali kelingkarkan di pinggangnya
sehingga k ontolnya nancep dalam sekali di n onokku. n onokku otomatis
mengejang2 ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga. “Akh Din,
aku ngecret”, dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa kali di n
onokku. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, aku
dipeluknya sementara k ontolnya masih tetep nancep di n onokku. aku menikmati
enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia mencabut k ontolnya dari n onokku.
k ontolnya berlumuran lendir n onokku dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku,
“Din, kamu nikmat banget deh kalo die ntot. Kamu yang paling nikmat dari semua
cewek yang pernah aku e ntot”, katanya sambil mengelus2 pipiku. “akhirnya ngaku
juga kalo sering ngen totin abege”. Dia tersenyum, “pantes ya cowok kamu demen
banget ngen totin kamu, nikmat banget ternyata”. “Pak Dina mo lagi dong”.
“So pasti Din, aku juga belon puas ngen totin kamu”. “Mangnya bapak bisa langsung
ngaceng lagi, kan baru ngecret di no nok Dina”. “Kamu liat ja nanti”.

Dia keluar kamar, mengambilkan aku minuman. aku langsung mereguk habis
minumannya. Dia mengambilkan lagi minuman dingin. Aku mereguknya habis. “Mau
lagi?” “Cukup pak”. Kalo masi aus juga, aku pindahin ja dispensernya ke kamar”.
Dia kembali berbaring disebelahku, dia mengusap2 pahaku. “Kamu cantik sekali,
Din”, katanya. Tangannya pidah ke bukit n onokku mempermainkan jembutku. Dia
bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku. Tangannya terus
menjalar ke atas ke pinggangku. “Geli pak”, kataku ketika tangannya menggelitiki
pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.”Toket
kamu besar ya Din, kenceng lagi”, katanya. “Bapak suka kan”, jawabku. “Ya Din, aku
suka sekali setiap inci dari tubuhmu”, jawabnya sambil terus meremes2 toketku.
Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku dan kemudian turun ke toketku.
Toketku diremes2nya, pentilku diemutnya. Tangan satunya langsung menerobos
jembutku dan mengilik2 i tilku. “Aakh pak, pinter banget ngerangsang Dina”,
erangku. Aku terus mengangkangkan pahaku supaya kilikannya di i tilku makin
terasa. Kilikan di i tilku membuat aku makin liar. Tanganku mencari k ontolnya,
kuremes dan kukocok2. k ontolnya langsung tegak berdiri dengan kerasnya. k
ontolnya kuraih, aku jilati. Pertama cuma kepalanya aku masukkan ke mulutku dan
kuemut2. Dia meraih pantatku dan menarik aku menelungkup diatasnya. Dia mulai
menjilati n onokku,aku menggelinjang setiap kali dia mengecup bibir n onokku.
Dengan kedua tangannya, dia membuka n onokku pelan2, terasa lidahnya menjulur
menjilati bagian dalam bibir n onokku. Aku melepaskan emutanku di k ontolnya dan
mengerang hebat, “Pak aakh”. Pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat
erat di n onokku. “Terus pak aakh”, erangku lagi, kemudian terasa i tilku yang
menjadi sasaran berikutnya, aku makin mengerang keenakan. n onokku makin
kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu banget. Cukup lama
dia mengemut i tilku dan akhirnya “Pak, Dina nyampe pak, aakh”, erangku. “Pak
nikmat banget deh, belum die ntot udah nikmat begini paak”. Aku memutar
badanku kesamping dan berbaring disebelahnya. Dia bangun dan mencium bibirku.
Dia mengambil minuman dingin dan diberikannya kepadaku. Aku minum untuk
meredakan napasku yang ngos ngosan.

Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya k ontolnya ken onokku dan didorongnya
masuk pelan2, “Pak, enak, masukin semuanya pak, teken lagi pak, akh”, erangku
merasakan nikmatnya k ontolnya nancep lagi di n onokku. Pak Anto mengenjotkan
keluar masuk, ketika k ontolnya sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan
pantatnya kebawah sehingga langsung aja k ontolnya ambles semuanya di n onokku.
“Pak, aakh”, erangku penuh nikmat. Dia mengenjotkan k ontolnya keluar masuk
makin cepet, sambil menciumi bibirku sampe akhirnya, “Pak, Dina nyampe pak,
ooh”, aku mengejang2 saking nikmatnya. n onokku otomatis ikut mengejang2. Dia
meringis2 keenakan karena k ontolnya diremes2 n onokku dengan keras, tapi dia
masih perkasa. Kemudian dia mencabut k ontolnya dan minta aku nungging. Dia
menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilati dan mengusapi
pantatku. Mulutnya terus merambat ke selangkanganku. Aku mendesis
merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu naik dari n onokku ke arah pantatku.
Kedua jarinya membuka bibir n onokku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian
dalem n onokku. Aku makin mendesah gak karuan, tubuhku menggelinjang. Ditengah
kenikmatan itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan k ontolnya. Aku
menahan napas sambil menggigit bibir ketika k ontol besarnya kembali nancep di n
onokku. “Pak”, erangku ketika akhirnya k ontolnya ambles semuanya di n onokku.
Dia mulai mengenjotkan k ontolnya keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin
cepat dan keras. Aku kembali mendesah2 saking enaknya. Toketku diremes2nya
dari belakang, tapi enjotan k ontolnya jalan terus.

Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi, dia duduk di sofa yang ada
dikamarnya dan aku duduk dipangkuannya membelakanginya. k ontolnya sudah
nancep semuanya lagi di n onokku. Aku mengangkat kedua tanganku dan
melingkari lehernya, lalu menolehkan kepalaku sehingga dia langsung melumat
bibirku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku sambil terus ciuman dengan
liar. Tangannya gak bosen2nya ngeremes toketku. Pentilku yang sudah keras itu
diplintir2nya. Gerakanku main liar saja, aku makin tak terkendali menggerakkan
badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga k ontolnya nancep dalem
banget. “Pak, Dina dah mau nyampe lagi pak, aduh pak, enak banget”, erangku. Tau
aku udah mau nyampe, dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga k
ontolnya yang masih perkasa lepas dari n onokku. “Kok brenti pak”, tanyaku protes.
Aku ditelentangkan lagi diranjang, aku dinaikinya dan kembali ditancepkannya k
ontolnya kedalam n onokku. Dengan sekali enjot, k ontolnya sudah ambles
semuanya. Dia mulai mengenjotkan k ontolnya keluar masuk dengan cepat. n onokku
mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 k ontolnya, tandanya aku dah hampir
nyampe lagi. Dia makin gencar mengenjotkan k ontolnya, dan “Pak, Dina nyampe
pak, akh”, jeritku. Diapun merasakan remesan n onokku karena nyampe. enjotannya
makin cepat saja sehingga akhirnya, “Din…” dia berteriak menyebut namaku dan
terasa pejunya ngecret dengan derasnya di n onokku. “Pak, nikmat banget ya malem
ini”, tanyaku. Dia mencabut k ontolnya dan terkapar disebelahku. Tak lama kemudian
aku terlelap karena lemes dan nikmat.

Aku terbangun karena sinar matahari yang menerangi kamar. Dia ternyata sudah
rapi dan membangunkanku dengan membuka tirai jendela. “Enak bener tidurnya Din,
Kita ke vila yuk, bisa berenang disana”. “Vila? Bapak punya vila?” “Punya temenku,
aku dah berapa kali minjem”. “buat ngen totin abege ya pak”. “Tau aja kamu, punya
bikini gak”. “Gak punya pak”. “Aku ada nih, tempo ari beliin buat abege yang aku
bawa tapigak jadi dikasihin”. “Bekas ya pak”. “Baru gres, belon dipake”. Segera aku
bangun, mandi dan sarapan seadanya. Bersama bapak sebentar kemudian aku dah
dimobilnya yang meluncur meninggalkan rumah. Sesampe di vila temennya yang
ternyata hanya sedikti keluar kota, segera aku turun dari mobil. Vilanya kecil, cuma 1
kamar tidur dengan kamar mandi didalem, ruang tamu yang merangkap ruang
keluarga dan ruang makan, serta dapur. Perabotan rumah ya standard aja, tempat
tidur dan lemari dikamar, sofa 1 set, meja makan, lemari perabot, lemari es, oven,
microwave, rice cooker, juicer, toaster dan mesin cuci serta meja strika dan
strikaannya. Di halaman belakang ada pool kecil dan saung yang tertutup rimbunnya
pepohonan. Halaman belakang memang ada pager tembok yang tinggi sehingga
cukup tertutup untuk melakukan aktivitas tanpa terlihat orang yang lewat. Aku
mengenakan bikini yang dikasi bapak, tidak terlalu minim sehingga
menyembunyikan jembutku agar tidak ngintip keluar. Aku berbaring didipan yang
ada disaung. Bapak keluar vila dengan membawa makanan yang tadi dibeli dijalan
dan minuman. langsung kucicipi. Dia kembali masuk ekdalam vila, katanya mo
beres2 vila karena dah lama gak dipake. aku hanya berbaring saja melamun, lama2
kantuk kembali menyerangku, sehingga tanpa terasa aku tertidur lagi.

Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara yang menggeser
dipan disebelahku. Bapak tersenyum melihatku “Sori, aku mengganggu tidurmu?”.
“Dina, kamu cantik dan seksi sekali pake bikini”, katanya memuji. Kami terlibat
dalam obrolan yang seru, ngantukku langsung hilang. Tanpa terasa sudah menjelang
siang. Dia mengajakku makan siang, “Aku dah nyiapin tuh di meja makan”.
“Wah bapak jadi kerja sendiri nih, Dina malah ketiduran disini”. “Gak apalah,
sekalian kembaliin stamina, kan bentar lagi mo tempur lagi”.

Selesai makan, dia mengajakku kembali ke saung.Kami berbaring didipan, 2 dipan
yang disatuin cukup lebar buat kami. “Din, aku dah napsu liat badan kamu”, katanya.
Langsung kulirik selangkangannya, kelihatannya sudah mulai ngaceng karena
kelihatan celana pendeknya ngegelembung. Dia mengelus2 punggungku, terus
tangannya pindah mengelus pahaku, merayap makin dalam sehingga menggosok
nonokku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan pahaku sehingga jarinya
menggosok2 belahan n onokku, tetap dari luar cd. “Ssh pak”, erangku. “Din, dah
pengen ya, sampe sh sh an gitu”, tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja
mengelus belahan n onokku dari luar.

Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar ketengah. Aku hanya dapat
mencengkram sprei ketika kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke
pinggir cd bikiniku yang disingkirkan dengan jarinya lalu menyentuh bibir n onokku.
Bukan hanya bibir n onokku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang n
onokku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus
paha dan pantatku mempercepat naiknya napsuku. Sesaat kemudian, dia menarik
lepas ikatan cd bikiniku. Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi
berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang
ditumbuhi jembut. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke toketku, darahku
makin bergolak ketika telapak tangannya menyusup ke balik braku kemudian
meremas toketku dengan gemasnya. Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam
elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-jarinya kini bukan hanya
mengelus n onokku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah
kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas toketku dengan pentil yang
sudah mengeras. Aku merasakan k ontol keras di balik celananya yang digesek-
gesek pada pantatku. Dia meremas-remas toketku dan terkadang memilin-milin
pentilnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia
pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah
memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai
kecupan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan
menjerit pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya
mengebor n onokku lebih dalam. Kecupannya bergerak naik menuju mulutku
meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui.
Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia
menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat bibirku. Mulutku
mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan
menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya.
Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya

Setelah puas berciuman, dia melepaskan dekapannya dan melepas kolor celana
pendeknya. Maka menyembullah k ontolnya yang sudah ngaceng dari tadi. Akupun
pelan-pelan meraih k ontolnya. “Ayo Din, emutin k ontolku” katanya. sementara
tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet pentilku.
Tangan kanannya tetap saja mempermainkan n onok dan i tilku. Aku menggelinjang
gak karuan, tapi k ontolnya tetap saja aku emut. Aku hanya bisa melenguh tidak jelas
karena mulutku penuh dengan k ontolnya yang besar. “Din, kita mulai aja ya. Aku
udah gak tahan nih pengen menikmati lagi n onok kamu”, katanya. Dia menelentangkanku,
ikatan braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah
kangkanganku, k ontolnya yang besar dan keras diarahkannya ke nonokku yang
sudah makin basah. Aku menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya k ontol
yang menerobos masuk n onokku pelan2. n onokku berkontraksi kemasukan k ontol
gede itu. “Din, n onok kamu peret banget”, katanya sambil terus menekan masuk k
ontolnya pelan2. “Abis k ontol bapak besar sekali. n onok Dina belum pernah
kemasukan yang sebesar k ontol bapak, masukin terus pak, nikmaat banget deh
rasanya”, jawabku sambil terus menggeliat. Setengah k ontolnya telah masuk. Dan
satu sentakan berikutnya, seluruh k ontolnya telah ada di dalam n onokku. Aku hanya
memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami
kenikmatan tiada tara.

Dia mulai mengenjotkan k ontolnya keluar masuk dengan pelan, makin lama
makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa n onokku mengencang
meremas k ontolnya yang nikmat banget itu. Tangannya mulai bergerilya ke arah
toketku. ToketKu diremas perlahan, seirama dengan enjotan k ontolnya di n onokku.
Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya.
k ontolnya terus saja dikeluar masukkan mengisi seluruh relung n onokku. Sambil
mengenjotkan k ontolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut.
Dimainkannya pentil kanan dengan lidahnya, namun seluruh permukaan bibirnya
membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua membuat aku mendesah
lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya. Aku makin sering
menegang, dan merintih, “Ah… ah…” Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens,
aku menjambak rambutnya, “Aaahhh pak, Dina nyampee,” lenguhan panjang dan
dalam keluar dari mulutku. Aku udah nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya
itu pun terkulai lemas di pundaknya. Dia makin intens mengenjotkan k ontolnya.
Bibirku yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun dilumatnya,
dan aku membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil
bergoyang. Tangan kanannya tetap berada ditoketku, meremas-remas, dan sesekali
mempermainkan pentilku. Terasa n onokku mencengkeram k ontol gedenya. “Uhhh,”
dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, k ontolnya menghujam keras
ke dalam n onokku, mengiringi ngecretnya pejunya. Tepat saat itu juga aku
memeluknya erat sekali, mengejang, dan menjerit, “Aahhh”. Kemudian pelukanku
melemas. Aku nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan
ngecretnya pejunya.

Setelah dengusan napas mereda, dia mencabut k ontolnya dari n onokku dan
terkapar disebelahku. “Pak, k ontol bapak lemes aja udah gede, gak heran kalo
ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Dina, makin gede k ontol yang masuk,
makin nikmat rasanya”, kataku. “Iya Din, aku sering nge ntotin abege, tapi dengan
kamu yang paling nikmat. n onok kamu kenceng sekali njepit k ontolku dan
empotannya luar biasa”, katanya memuji. Aku cuma tersenyum, Tak lama kemudian
aku terlelap. Lemes dan nikmat. Aku terbangun menjelang sore. “Ayo mandi, abis itu
kita cari makan”, katanya sambil masuk ke vila dan langsung menuju kamar mandi.
Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk
membersihkan diri. Setelah rapi berpakaian, dia mengajakku keluar, ternyata sudah
gelap. Dia mencari tempat makan yang banyak terdapat sekitar vila. Santai saja kita
makan malemnya, gak terasa telah lewat 2 jam di resto itu. Aku kenyang sekali
karena bapak memesan cukup banyak makanan dan minuman. Habis makan dia
mengajakku ke pub sederhana yang ada disebelah resto untuk melewatkan malam.
Lewat tengah malam baru kami kembali ke vila.

Aku membuka pakaianku dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring
diranjang, diapun segera melepas pakaiannya meninggalkan cd nya saja dan
berbaring disebelahku. kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan
gemas. setelah itu tangannya mulai menyusup ke dalam cdku dan meremas kembali
pantatku dari dalam. Kemudian, dia mengangkat satu kakiku dan menahannya
selagi tangan satunya meraih n onokku. “Ohh.. pak,” rintihku. kurasakan napsuku
mulai naik, Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang n onokku yang mulai
basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. ia membuka cdku dan membuka lebar-
lebar pahaku sehingga n onokku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya.
Dengan sigap tangannya kembali meraih n onokku dan meremasnya. Dia menjilati
telingaku ketika tangannya mulai bermain dii tilku. Napsuku sudah tak tertahankan lagi.

Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku.
Dia terus menekan-nekan i tilku dari atas ke bawah. aku meracau tak karuan.
“Ahh..Shh.. pak” desahku bernafsu. Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan
menekan i tilku dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku
berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku nyampe.
“Pak, nikmat banget, belum die ntot saja sudah nikmat,” desahku, tanganku
meremas tangannya yang sedang bermain di i tilku dengan bernafsu.

Di luar perkiraanku, dia malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Dia
merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir n onokku, rasa
menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu menjalar ke i tilku,
kurasakan gigitan lembut di i tilku yang kian merangsang napsuku. Aku melenguh
keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh dia untuk terus dan
tak berhenti. Melihat reaksiku, dia terus menggesekan jarinya di liang n onokku yang
sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-
menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian kurasakan sensasi yang luar
biasa nikmatnya. Tak lama kemudian, n onokku mengeluarkan cairan deras bening,
aku nyampe untuk kedua kalinya. “Pak, ooh”, lenguhku. Dia membuka braku dan
meremas toketku dengan sangat keras. Aku melenguh, kemudian pentilku yang
menjadi sasaran berikutnya, dipilin dan dicubitnya pelan. Napsuku kembali berkobar,
n onokku kembali membasah, “Pak, e ntotin Dina sekarang, Dina udah napsu
banget pak”, erangku. Diapun mencopot cdnya, k ontol besarnya sudah ngaceng
berat mengangguk2. Dia menggesekkan kepala k ontolnya ke bibir n onokku yang
sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahnya di n onokku
sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihan keras
kenikmatan. “Ahh! pak.. Ohh.. e ntotin Dina” racauku.

Dengan perlahan bapak memasukkan kepala k ontol ke dalam n onokku, segera dia
menyodok-nyodok k ontolnya dengan kuat dan keras di n onokku. Rasanya nikmat
sekali. Dia mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya n
onokku. k ontolnya yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam n
onokku hingga membuatku nyampe lagi. “Pak, Dina nyampe, aakh nikmatnya”,
erangku. Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan k
ontolnya ke dalam n onokku dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena
terasa lebih menggosok dinding n onokku yang masih sensitif. “Oh Dina.. n onokmu
bagaikan sorga”. Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret
didalam n onokku. Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding n onokku. Dia
menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang.

Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda,
dia berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan
digerogotinya dengan gemas. Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi.
Tangannya kembali menjelajahi n onokku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam
n onokku. Dia menekan-nekan dinding n onokku. Ketika sampai pada suatu titik,
badanku mengejang nikmat dan dia tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali
menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus.

Wow! Rasanya ajaib sekali! nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot. Aku
tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badanku
mengejang dan n onokku kembali berlendir. “Pak nikmat banget deh malem ini,lebih
nikmat dari semalem”, kataku. Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku
nyampe, baik pake k ontolnya maupun pake jarinya. Segera akupun tertidur
kelelahan.

Ketika aku terbangun hari udah siang, bapak masih saja mendengkur disampingku.
Aku bangun ke kekamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi. Ketika
kembali ke ranjang dia masih saja mendengkur. Aku ngintip dibalik korden kamar,
matahari udah tinggi juga. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat. Korden
kusibakkan, dia terbangun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi
silaunya sinar yang masuk kamar. Kulihat k ontolnya sudah tegak seperti tiang
bendera. Dia ke kamar mandi, terdengar kloset berbunyi, rupanya dia kencing. gak
lama lagi terdengar dia menyikat gigi. Ketika dia kembali ke kamar, aku udah
berbaring di ranjang lagi menantikan serangan pagi. Aku melihat k ontol besarnya
masih aja ngaceng dengan kerasnya walaupun dia udah kencing. Dia duduk
disampingku dan mencium bibirku. “Pagi sayang, kita main lagi yo”, ajaknya.
Kembali dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan
cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan
liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya
mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di
pangkal pahaku. n onokku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya
yang nakal. Bibir kulepas dari bibirnya. “Hmmhhh…enak, pak.” jeritku. jari-jarinya
tambah nakal, menusuk lubang n onokku yang sudah berlendir dan mengocoknya.
Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia menindih badanku sambil
menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam
gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai
k ontolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di n onokku. Bosen ciuman, bibir
dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes
banget ngeliat pentilku yang lumayan gede, kecoklatan dan mencuat ke atas itu. Dia
menjilat pentilku dengan rakus sampai Aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan
digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya,
sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli
dan nikmat. Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan
pentilnya tegak. Lendir n onokku mengalir dan terasa basah di perutku.

“Pak, gantian Dina yang ngemut k ontol bapak ya”, kataku sambil menelentangkan
badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang k ontolnya dengan kelima jariku.
Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, “Enak Din, terus..”
Lidahku mulai merambat ke kepala k ontolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di
lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang k
ontolnya. Tangan kiriku mengelus-mengelus biji pelernya. “Din…” gumamnya pelan.
“enak banget, geli-geli nikmat”. Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek
kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan k ontolnya masuk ke dalam
mulutku. k ontolnya kuisep kenceng-kenceng, lalu dengan mulut kukocok k ontolnya
turun naik turun naik, “uuuuggggghhhh…sedap..enak…mmmmhhhh…”, erangnya. Aku
lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan
pantatku ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati n
onokku yang berlendir dan merekah merah itu. Bibirnya menyedot lubang n onokku,
menghisap lendirnya. Lidahnya dimasukin ke dalam lubang n onokku, menjilati
dinding-dinding basah, sementara jari nya mempermainkan i tilku. Aku mengerang-
ngerang dengan k ontolnya di mulutku, menyuarakan kenikmatan. Lendir dari n
onokku membajir membasahi mukanya.

Aku melepaskan k ontolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari
belakang. Waktu k ontolnya masuk, aku hanya merintih pelan. k ontolnya dienjotkan
keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang menahan nikmat.
Tangannya ikut nimbrung merangsang i tilku. Kocokan k ontol di n onokku dan kilikan
jarinya di i tilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua
kali n onokku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok k ontolnya keluar masuk
sampai aku lemes. Cairan n onokku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku
nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.”Pak,
nikmat banget pagi ini, Dina sampe berkali2 nyampe baru bapak ngecret”, lenguhku
lemes. Dia mencabut k ontolnya dari n onokku dan menyiapkan sarapan untuk
berdua. orang. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika aku
sedang membilas badanku terdengar dia memanggil karena sarapan dah siap.
Selesai mandi aku keluar, makan pagi sudah tersedia di meja, bapak sedang
menikmati makan paginya. Segera aku nimbrung. Selesai makan, dia memelukku,
“Sudah waktunya pulang, kapan2 kita ulangi lagi ya berbagi kenikmatan ini ya Din.
“Terima kasih untuk malam yang indah bersamamu”. Dia menciumku, lama sekali.

Nikmatnya Menjadi Dokter

“Namaku Rendi, seorang spesialis kandungan dokter di rumah sakit negeri di kota S*******G. Umurku 35 tahun tapi aku belum nikah, jangan salah bukan karena aku tidak ganteng tapi pacarku sedang menyesaikan S3 nya di amrik, makanya nungguin dia selesai dulu. Tinggiku 180 cm karena hobiku juga main basket, kulit putih , dan wajah yang bikin cewek pada ngiler. Dengan punya pacar bukan berarti aku ngga “ngobyek” dengan yang lain. Terus terang aku punya beberapa affair dengan dokter wanita di sini atau anak kedokteran yang masih koass. Tentu yang aku pilih bukan sembarangan, harus lebih mudan dan cantik. Sebenernya sudah banyak yang mencoba menarik atiku tapi sejauh ini aku belum mau serius dan kalau bisa aku manfaatin selama jauh dengan pacarku. Sudah banyak yang aku banyak yang aku perdaya tapi…ada satu orang yang membuatku sangat penasaran. Namanya Novi, umurnya sekitar 22 tahun, dia anak koas dari perguruan tinggi negeri dari kota yang sama. Kebetulan aku jadi residennya. Wajahnya cantik dan tatapannya teduh, dia juga berjilbab lebar berbeda dengan anak lainnya, walaupun affairan aku pun sebenernya ada juga yang berjilbab, tapi tidak seperti dia. Tinggi semampai sekitar 165 cm, dengan tubuh yang padat tidak kurus dan tidak gemuk, sesuai seleraku. Jilbabnya pun tidak mampu menutupi lekukan dadanya, aku taksir kalau tidak 36B mungkin 36C. Tutur katanya yang lembut dan halus benar-benar membuatku mabuk. Apalagi dia sangat menjaga pergaulan. Sesekali aku coba berusaha bicara dengannya tapi dia elalu menundukkan wajahnya setiap bicara denganku. Dia pun tidak menyambut tangaku ketika aku ajak untuk bersalaman. Kulit putihnya sangat halus ketika aku coba perhatika di pipi dan ujung tangannya, tahi lalat di atas bibir semakin menambah kesan manis darinya.

Nov…kita makan bareng yuk, aku yang traktir. ujarku berusaha membujuk untuk bisa pergi bareng. Terima kasih Dok…saya dengan teman-teman saja. Ujarnya halus. Jangan panggil Dok…panggil saja kak. “baik Dok…eh…kak”. “tapi terima kasih tawarannya
aku bareng teman saja…”, “kalau begitu sekalian ajak saja teman kamu” setengah berharap dia mau menerima. “terima kasih Dok..eh kak, nanti merepotkan, teman-temanku makannya banyak lho” sahut dia sambil tetap menundukkan kepalanya. Kadang gurauan ringan itu yang tidak pernah aku dapatkan dari pacarku atau teman affair-ku. aku tersenyum kecil mendengar alasannya yang sangat lucu…humoris juga dia, “baiklah…mungkin lain kali”
kataku
“oh ya, jika ada apa-apa masalah administrasi di sini atau masalah kerjaan jangan sungkan bicara aja ya, nanti aku bantu” aku masih berusaha mencari celah.
“Terima kasi pak ehh..kak…saya pamit”
sambil berlalu
AKu perhatikan dari belakang, roknya yang juga lebar tidak bisa menutupi lekukan pantatnya yang bergoyang mengikuti langkah kakinya..perfect…aku menggeleng.

Dia berbeda sekali dengan nita…anak koas 2 tahun lalu yang pernah aku perawani juga. Sama-sama berjilbab walau tak selebar dia. Nita pun awalnya agak jual mahal…walau aku tau dari cara memandangnya dia suka aku. Dengan beberapa rayuan akhirnya aku bisa memerawani dia di sebuah hotel. Tidak dengan paksaan dan sangat mudah. Affair kita berlalu dengan selesainya masa koas dia, juga karena dia tahu aku punya affair juga dengan temannya. Dia berbeda sekali, sulit sekali menaklukannya. Setiap aku melihat dia selalu aku lihat setiap geriknya, senyumnya, tawanya, selalu terbayang. Saat aku sedang melamun tiba-tiba dari arah belakangku ada yang memeluk dan terus menarikku.
“Ngelamun nih…” dengan suara yang diparaukan
“Mhh…Rasya…kamu nih ganggu saja” sambil melepaskan pelukan dia.
“kamu sekarang jarang ke ruangku lagi” rengeknya
Rasya ini sesama dokter di sini, umurnya sekitar 27 tahun dan sudah bersuami. Sayangnya suaminya bekerja di lepas pantai sehingga jarang bertemu dan memberikan nafkah bathin padanya. Memang aku sering ke ruangnya dulu…sekedar bercumbu dengan bumbu oral yang bisa membuat dia melayang. Tapi kami tidak pernah sampai melakukan jauh karena dia pun tidak mau, ya akupun tidak memaksa. Tidak semua affairku selalu aku tiduri…yang penting ada penawaran rindu dan bisa memuaskanku walau tidak sampai melakukan senggama.
“Aku sibuk Rasy…banyak yang melahirkan juga jadi residen” ujarku sambil memegang pinggangnya
“tidak ada waktu untuk aku?…sebentar saja…” lalu dia memagut bibirku dan selanjutnya kamupun bercumbu
Satu persatu aku buka kancing blousenya aku temukan dua gunung kembar yang jarang dijamah pemiliknya. Aku cumbu dan ciumi dengan lembut. Tapi…sepintas aku ingat Novi lagi dan akupun menghentikan aktifitasku. “Kok berhenti…” Rasya pasti sedang mulai terangsang. “Maaf Rasy…aku ga konsen banyak pekerjaan…”. “Ya sudah…” ujarnay tersungut sambil mengancing kembali blousnya terus berlalu.

Sore itu aku sedang membantu persalinan, sengaja aku panggil Novi untuk mendampingiku. Wajahnya senang sekali karena jarang mendapat kesempatan untuk mendampingi dokter saat persalinan seperti ini. Tidak mungkin kan semua masuk, ya aku beralasan yang lain tunggu giliran. DIa berusaha menjadi asistenku dengan baik, saat memebrikan gunting aku sengaja pura-pura tidak tahu menyentuh tangannya…tapi langsung dia tarik. Gagal lagi upayaku…tapi aku sudha senang dengan melihat wajahnya dari dekat selama persalinan itu. Sekeluar dari ruang bersalin “Terima kasih ya kak…jarang ada kesempatan begitu…”. “Kamu mau aku bikin begitu…” sambilku melirik seorang ibu hamil yang kebetulan lewat. “yee…ga lah, makanya cepet cari istri sana…” sambil tersenyum dan berlalu. Aku kaget…kok dia tau ya…

Sore itu langin mendung dan gelap sekali. Hujan mulai turun rintik-rintik, aku memacu FORTUNER ku ke luar ruang parkir. Aku melihat Novi berlari keluar sambil menutupi kepalanya dengan tas agar tidak terkena hujan. “kesempatan”…tin..tin..aku klakson dia. “Mau pulang? bareng aja yuk…kayaknya mau hujan besar nih” selalu saja aku cari kesempatan. “Terima kasih kak…aku naik angkot saja…sudah biasa kok” katanya. hujanpun makin deras
“bener lho…ga apa-apa kok aku antar kamu sampe kos”
“Terima kasih kak, ga enak kalau dilihat orang bisa jadi fitnah”
mhh…gilaa…ini semakin membuatku jatuh cinta sama dia, aku janji dalam hati, kalau saja aku bisa dapatkan dia aku akan putuskan semua affairku, aku benar-benar jatuh cinta pada dia. Tidak berapa lama hujan semakin deras, bahkan aku sulit melihat jalan saking derasnya hujan. Sampai aku tertidur jam 10 malam ini hujan masih juga belum berhenti.

Keesokan harinya, aku harus membantu persalinan lagi dan aku mencari Novi.
“Novi tidak masuk hari ini dok” sahut Rinda teman sekampusnya sambil membedong bayi di ruang bayi
“Dia sakit? aku mau minta tolong bantu persalinan lagi” kataku
“Tidak tau dok…saya tidak dapat kabarnya” sahutnya sambil melihatku dengan sopan.
AKu lihat Rinda manis juga, berjilbab lebar sama dengan Novi, walau tidak secantik Novi, Rinda bisa juga dikatakan high quality. Tingginya paling hanya 155 atau 160 cm, tapi tubuhnya proporsional. Dadanya tidak sampai terlihat betul lekukannya seperti Novi, kulitnya kuning bersih, kacamata yang dia kenakan semakin membuatntya lebih terlihat anggun. Aku pandangi seluruh tubuhnya, berbeda juga dengan Novi, dia tidak sungkan untuk berbicara langsung dan melihatku, walaupun dia juga sama-sama menjaga pergaulan.
“Ya sudah kamu saja ya…bantu saya persalinan…”
dia tersenyum senang “Terima kasih dok…”

Keesokan harinya aku masih belum menemukan Novi. akhirnya aku di bantu Rinda lagi “Kamu tau nomor telepon atau kos Novi Rin..”
“Tidak dok…kita beda kos…kenapa gitu?”
“mhh..atau dokter…hihihi…suka sama dia ya” sahutnya sambil tersenyum
“tidak…cuma dia itu cekatan dan pintar…makanya saya suka sekali kalau diasisteni dia…lagian juga dia ngga akan mau sama aku ini”
“Iya dok…banyak yang sudha mau khitbah dia..tapi dia tidak mau…dia mau selesaikan dulu kuliahnya…dia itu baik dan cantik lagi” sambil mengikuti langkahku di ruang persalinan
“Kamu juga cantik…” aku mulai mengeluarkan racunku, kalau ga dapet yang poin 9 ya minimal 7 atau 8 juga tidak apa-apa. Yang penting aku pengen sekali bisa memerawani wanita berjilbab lebar ini. Karena setauku mereka selalu menjaga diri dan pergaulannya. Tantangan tersendiri untuk aku.
Rinda tidak menjawab, hanya tersenyum sambil menunduk.

Hari keempat baru kulihat Novi datang, namun tak seperti biasanya. Biasanya Novi selalu ceria, kali ini tidak. Wajahnya murung dan tatapannya kosong. Kulihat teman-temannya berusaha bertanya dan berkumpul di sekitarnya. Entah apa yang mereka bicarakan terkadang Novi tersenyum walau getir.

Saat istirahat ku coba dekati. “Kamu sakit Nov?”
“Nggak kak” lemah sekali bicaranya
“Kenapa kamu murung, ada masalah?”
“ah nggak kok” Novi mencoba tersenyum walau aku lihat tidak bisa menutupi kemurungannya. “Ngga ada masalah cuma agak kurang sehat aja, maaf saya mau makan dulu kak” sambil berlalu meninggalkanku.
“Ya sudah kalau kamu ngga apa-apa, kalau kamu butuh bantuan jangan ragu minta tolong ke aku ya”
“iya kak, terima kasih”

Esokan hari-nya hari jum’at, aku berencana pulang agak cepat. Maksudku, aku mau tidur dulu sebelum agak malam nanti aku bangun dan pergi clubbing di club terkenal di kota ini. Ketika aku sedang membereskan buku dan berkas yang aku masukkan ke tas, tiba-tiba pintu kantorku di ketuk, “Silahkan masuk”.
“Maaf, apa saya mengganggu kakak…” aku lihat sesosok wanita dengan kemeja pink berbalut blazer putik khas dokter, jilbab pink dan rok putih. Cantik sekali dia terlihat. Wajahnya sambil agak menunduk walau dia coba beranikan diri melihat wajahku.
“Ada apa Nov, tidak menggnggu kok, saya sedang membereskan berkas” ujarku santai. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Kakak besok ada acara?”
AKu tersentak, tumben sekali dia bicara ini. “Tidak…tidak…ada apa? besok aku bebas kok” Aku melupakan janjiku untuk bertemu Dian, passienku yang pernah aku tolong persalinannya. Dia hamil oleh pacarnya, tapi kemudian pacarnya pergi tidak bertanggung jawab. Karena aku yang menolongnya hubungan kamipun dekat, dan tidak perlu dijelaskan detail apa yang kami lakukan, karena bukan inti dari cerita ini, yang pasti kami lakukan dengan aman.
“Saya mau minta tolong, besok aku mau pindah kos, apa kakak bisa bantu bawakan barang”
“Oh…tentu, jam berapa?”
“AKu tunggu di kos ku ya kak, jam 9, sini alamatnya saya tuliskan dulu” Novipun menuliskan alamat pada secarik kertas di atas mejaku, aku terus memandanginya tanpa berkedip. perfect girl.
“Terima kasih kak, maaf sekali saya sudah merepotkan” sambi memberikan kertas kepadaku, sedikit nakal aku pura-pura tidak sengaja menyentuh tangannya. lembut sekali dan…tak seperti biasanya dia menarik tangannya, kali ini dia membiarkan tanganku menyentuh tangannya.
Novi pun berlalu sambil meninggalkan gerak pinggul yang sangat menarik, “aku harus memilikinya”. Aku segara batalkan semua agenda dan janjiku, aku segera tidur dan tidak sabar menunggu datangnya esok. Saat pertama kali berdua dengan dia.

Esokan harinya aku datang tepat waktu di alamat yang sudah diberikannya. Sebuah rumah kos yang cukup besar walau agak tua, bangunan inti pemilik rumah ada di depan, sedangkan bagian depannya gedung baru berlantai 2 dengan pola bangunan khas tempat kos. Aku lihat beberapa orang berkumpul dihalaman depan juga Novi dengan mengenakan jilbab putih, kemej biru dan rok panjang biru donker.

“Kenapa pindah nduk…padahal ibu seneng kamu di sini, kamu suka bantuin ibu”
kata seorang wanita berumur lebih dari separuh baya.
“iya bu…aku mau cari suasana lain aja, supaya aku bisa tenang bikin laporan”
“Kalau kak Novi ngga ada, kalau diantara kita ada yang sakit siapa yang bantuin” seorang wanita muda yang aku tebak masih maha siswa juga menimpali.
Novi tersenyum sambil mengacak-acak rambut teman kosnya itu “kamu boleh kok main ke sana”. “Bu, kenalkan ini dokter Budi, yang bantuin saya pindahan” sambil mengenalkan aku, tanpa sedikitpun mengenalkan aku pada seorang pria tua yang ada di sebelah ibu kosnya itu. Sama sekali wajahnya tidak bersahabat.
“Oala aku kira bojo mu nduk…gantenge…” ku tersenyum dalam hati mendengarkan ucapan ibu kosnya itu
“ah ibu bisa aja…” Novi tersipu. Aku berharap itu menjadi nyata, dan tidak hanya menjadi pacarnya tapi aku bisa mengambil semuanya dari dia.
Semua temannya berusaha membantu memasukkan kardus ke dalam fortunerku, tidak lama hanya 1 jam semua barang sudah dimasukkan.

Kami pun segera pamit, pertama kali dia duduk bersebelahan denganku. AKu menancap gas stelah sebelumnya melambaikan tangan dulu pada ibu kos itu dan teman-temannya, wajah pria tua yang aku kira adalah suami dari ibu kos itu masih tetap tidak bersahabat. Mataku coba melirik nakal padanya, tatapannya kosong melihat pemandangan di sekitar jendela. Lekukan dadanya begitu nampak dan close up di hadapanku, napasnya naik turun semakin membusungkan dadanya yang tertutup jilbab putihnya. Rok biru donkernya berbahan lembut, sehingga gampang jatuh, aku lihat bagian tengah rok antara kedua pahanya jatuh ke paha sehingga menampakkan bentuk pahanya yang jenjang dan penuh. Novi masih menikmati pemandangan sisi jalan dan tidak sadar kalau aku memperhatikan tubuhnya. Aku memacu mobil menuju alamat yang sudah dia beritahukan sebelumnya.

Di perumahan itu, rumah type 21 yang dia tempati. Luas tanahnya masih sangat luas belum termaksimalkan. Sisi kanan kiri rumah masih kosong dan membuat jarak dengan rumah disampingnya. Aku pun segera membantu menurunkan barang dan membereskan barang di rumah tersebut, hanya berdua. aku pandangi wajahnya, perhatikan tiap lekuk tubuhnya yang membuat penisku tagang.
Sore itu aku mandi di rumah kontrakannya, aku tidak pernah lupa membawa alat mandi di mobilku. begitu juga Novi yang mandi sebelum aku, meninggalkan bau harus menyengat di kamar mandi.
“Kak, makan malam di sini saja ya, sudah aku masakkan” tawarnya
“Baik lah, pasti masakannya enak sekali” timpalku, padahal aku masih ingin berlama-lama dengan dia
Selepas makan malam kami pun bercengkrama. Semua barang telah kami rapihkan bersama, hari itu aku habiskan waktu bersama. “Akhirnya selesai juga ya Nov, capek juga ya
” sahutku mencoba mencairkan suasana, sambil duduk di sebelahnya yang sedang mengupaskan mangga untukku. Novi tersenyum manis sekali, “Iya kak, kakak capek ya, mau aku suapin manggana?”
aku kaget dengan tawarannya aku berusaha tenang “boleh”
Dia pun memberikan mangga yang ada ditangannya, dengan nakal aku coba melahap mangga sampai ke jarinya, sehingga bibirku menyentuh jarinya. Dia tarik jarinya dari mulutku pelan sekali, sembil tersenyum. “oh god…sweet” ujarku dalam hati. “Mangganya manis…apalagi sambil lihat kamu” aku memancing. Novi hanya tersenyum, “mau lagi?” tawarnya, akupun mengangguk. Suapan kedua ini jarinya lebih lama berada di dalam mulutku. Sengaja tidak aku lepaskan dan si empunya jari lentik itu tidak keberatan, dia hanya diam menunggu. Tangan kiriku menyentuh tangan kanannya itu lembut, dia tidak menolak. aku tempatkan telapak tangannya yang lembut di pipiku, sambil menatap wajahnya. Wajahnya bersemu merah. Mata kami saling menatap, wajah kami semakin mendekat…dekat dan dekat…sehingga aku rasakan nafasnya menentuh wajahku. Tangan kananku meraih dagunya yang lembut seolah tidak ada tulang di dagunya itu. sedikit aku tarik dagunya sehingga bibirnya terbuka, sengal nafasnya bisa aku rasakan. Ini mungkin rasanya seorang wanita yang pertama kali melakukan kissing, wanita yang selama ini berusaha menjaga kehormatannya dan tidak pernah disentuh siapapun sebelumnya. Matanya terkatup, cantik sekali dia malam ini. Akupun mendekatkan bibirku dengan bibirnya, aku pagut lembut…dia tidak membalas juga tidak menolak. Kembai aku pagut bibirnya, lembut dan manis kurasakan. ku pagut bibir ats dan bawahnya bergantian. Kali ini dia mulai merespon, dia membalas pagutantu dengan memagut bibirku juga, basah dan indah. Pagutan kami semakin liar, aku pindahkan kedua tanganku disamping wajahnya dengan posisi jari jempol menempel ke pipinya yang lembut. Keempat jariku berada di bawah telinganya yang masih tertutup jilbab. aku semakin menarik wajahnya mendekatiku, kecupanku semakin liar yang aku yakin membangkitkan gairahnya. “mhh…ummm….aummmmm…” bergantian kami mengecupi bibir kami. Kini tangan kiriku melingkari leher hingga kepundak belakangnya, sedangkan tangan kananku menyusup melalui bawah jilbab putihnya yang lebar kemudian mencari gundukan lembut tepat di dadanya. Tangan kananku menyentuh sebongkah gundukan lembut yang masih tertutup bra. “Mhh…payudara yang snagat indah” tangan kananku pun mulai meremas lembut payudara itu. “ehhhmmm…mhhmhh…mmhhhhh” Novi kaget dan mendesah sambil tetap berpagutan dengan bibirku. Sekiatr 2 menit meremas remas dada kirinya, tangan kananku mencoba mencari kancing kemejanya. Dan ku buka satu demi satu hingga meninggalkan beberapa kancing bagian bawah yang tetap terpasang. Tangan kananku lebih aktif lgi masuk ke dalam kemejanya, benar saj, gundukan itu sangat lembut, ketika kulit tanganku bersentuhan dengan kulit payudaranya yang halus sekali. tanganku menyusup diantar bra dan payudaranya, meremas lembut dan sesekali memilin putingnya yang kecil dan nampak sudah mengeras. “mhhh…ummmmm,….aahhh,…mmhh…..mmmm….mmmmphh….” mulutny atreus meracau mencoba menikmati setiap remasanku, matanya masih saja terpejam seolah dia tidak mau melihat kejadian ini atau dia sedang berusaha benar-benar meresapi rangsangan yang aku buat.

AKu tarik pundaknya sehingga tubuhnya terbaring ke samping kiriku, dan aku pun menarik bibirku dari bibirnya dengan sedikit suara kecupan yang menggambarkan dua bibir yang sudah lengket dan sulit dilepaskan. “mhuachh…aahhh” wajahnya memerah dan matanya masih terpejam, cantik sekali. Kini tangan kananku mengangkat jilbabnya ke atas, memberikan ruang agar kepalaku bisa masuk kedalamnya. AKu mencium bau harum dari keringatnya yang mulai mengalir. Dalam keremangan aku milihat leher jenjangnya yang putih dan halus, tanpa membiarkan waktu berlalu aku segera mengecupnya lembut dan kecupanku semakin ganas di lehernya “aahhh….eengg…ehhhh…aahhh….aaahhh….” mulutnya tak berhenti meracau. Tangan kananya meraih belakang kepalaku dan menekankan kepalaku agar semakin menempel di lehernya, sedangkan tangan kirinya mendekap punggungku. Untungnya jarang rumah ini dengan rumah sebelah lumayan jauh, sehingga desahan kami tidak terdengar oleh rumah sebelah. Aku tidak lupa meninggalkan cupang di lehernya, lalu ciumanku pun turun ke dadanya. Tangan kananku mencari sesuatu di balik punggungnya, ya kait bra. Setelah aku dapatkan langsung aku lepaskan. Terlepaslah bra yang selama ini menutupi keduap payudara indah itu agar tidak meloncat keluar. lalu tangan kananku menarik bra agak ke atas ke leher Novi, sehingga terpampang dua gunung kembar yang sangat mengagumkan. Benar saja 36C. Aku mulai mencium payudara kanan novi, aku lakukan masih di dalam jilbabnya, dan akupun tidak melepas semua kancing kemejanya, sehingga tidak semua bagian tubuhnya terlihat. Namun, itu membuat sensasi percintaan semakin terasa, tangan kananku sibuk meremas payudar akananya yang saat ini sudha tidak berpenutup lagi. “aaahhhh…kaaakk….ahhh…..mhhh…kak…..aduuhh…..mhh….. ” Novi tidak kuat menahan rangsangan ini, kepalanya menggeleng ke samping kanan dan kiri, tangan kanannya semakin kuat membekap wajahku ke arah dadanya. Kini tangan kananku melepas remasan di dadanya, mulai turun ke bawah, menyentuh kakinya yang masih ber kaos kaki. tangan kananku menarik roknya menyusuri betis yang tertutup kaos kaki panjang hampir selutut, setelah itu tanganku menemukan kulit halus yang putih. Tangan kananku menyusuri paha kirinya dan membuat roknya terangkat sebatas perut. tangan kananku membelai-belai paha kirinya dan ciumanku sekarang sudah mendarat di payudara kirinya. “ahhh…kaaaakkk….kakaaa….kk…ahh…”, nafas Novi semakin tersengal-sengal, aku tidak lupa meninggalkan cupang juga di payudara kirinya yang sangat lembut. Penisku semakin tegang.

Lalu aku tarik wajahku dari dadanya, aku duduk di samping tubuhnya yang terbaring. Bulir keringat mulai membasahi wajahnya yang putih, nafasnya tersengal, matany amasih terpejam, bibirnya terbuka sedikit. Rok bagian kiri sudah terangkat sampai ke perut, menyisakan pemandangan paha putih jenjang nan indah, namun betisnya tertutup kaos kaki yang cukup panjang. Tangan kananku masuk ke bawah kedua lututnya, tangan kiriku masuk ke dalam lehernya, aku pun memagutnya lagi dan dia faham apa yang aku maksud. Dia kalungkan kedua tangannya ke belakang kepalaku. “Jangan di sini ya sayang…kita masuk saja ke dalam…” ujarku sambil mengangkatnya, birbir kami tak henti berpagutan. Lalu aku rbahkan tubuhnya ke kasur busa tanpa dipan khas milik anak kos. nafasnya terus tersengal, kedua tangannya meremas kain sprei kasurnya itu. Kini aku berada di kedua kakinya, aku coba tarik roknya sampai sebatas perut dan aku kangkangkan kakinya. Ciumanku mendarat di bagian bawah perut, “eenngg…ahhh…” aku tau dia merasa geli dan terangsang hebat, sambil kedua tanganku mencoba menurunkan celana dalamnya. Gerak tubuhnya pun tidak menggambarkan penolakan, bahkan dia agak mengangkat pantatnya ketika tangan ku mencoba melepas celana dalamnya sehingga mudah melewati bagian pantan dan tidak berapa lama terlepas sudah celana penutup itu. Vagina muda berwarna pink yang sangat indah, ditumbuhi bulu halus yang rapih tercukup. Baunya pun sangat wangi. Tapi aku tidak ingin buru-buru, aku ingin Novi membiasakan suasananya dulu. ciumanku jatuh ke pahanya, ke bagian sensitif paha belakang sambil mengangkat kakinya ke atas. lalu pada sat yang tepat aku mulai turunkan ciumanku di antara selangkangannya. “kaakk…ahh…”, aku mencoba menjilati bagian luar vaginanya dari bawah ke atas, vagina itu mulai lembab dan basah. Lalu aku renggangkan lebih luas lagi kakinya, dan aku sibak labia mayoda dan labia minora vaginanya, aku temukan lubang ke wanitaan yang masih sempit namun berwarna merah seakan bekas luka atau lecet. AKu tidak mempedulukan, karena aku melihat cairan bening meleleh dari dalam lubang kewanitaan Novi, lalu aku jilati dan lidahku pun nakal mencoba masuk ke dalam lubang kewnitaan itu, terus mencari dan mencari…lalu kecupanku pindah ke atas menemukan benjolan kecil tepat di bawah garis vagina atas, aku gigit-gigit kecil, aku cium aku sedot, tidak ketinggalan tangan kananku mencoba sedikit demi sedikit masuk ke vaginanya. “aahhhhh…uuhhh….mhh….phhh…ahhh…akakak…aahh..kakak… aduuhh…aaahhh…ahhh…” kepalanya bergeleng tidak teratur ke kanan dan kekiri, kedua tangannya semakin kuat menggenggam sprei yang dikenakan pada kasur busa tersebut. ciumanku semakin kuat dan ganas, cairan kewanitaan semakin deras keluar dari lubang kewanitaan Novi. secara bergantian lidahku merangsang lubang vagina dan clitoris, dan tangan kananku pun tidak tinggal dia. Jika lidahku sedang merangsang klitoris maka jari tangan kananku berusaha meransang pubang vagina, juga ketika lidahku bermain-main dan mencoba masuk lebih dalam ke lubang vagina, jempol tanganku merangang dengan menggesek dan menekan-nekan clitoris Novi. “aaahhh….aaaaa…uuuu…enhhhh…eeemmm…ahh…aaaa….” Tangan kananya sekarang meremas-remas rambutku dan menekan kepalaku agar lebih dalam lagi mengeksplorasi vaginanya.

sekitar 15 menit aku mengekplor vaginanya, dia menjambak rambutku dan kemudian mendorongku. Sekarang posisi kami sama-sama duduk, nafasnya tersengal-sengal tapi sekarang dia berana membuka matanya menatapku, keringat mengucur dari tubh kami. Tiba-tiba bibirnya langsung menyerbu bibirku, ciuman kali ini amat liar terkadang gigi kami beradu, lidah kami saliang bertukar ludah, lidahku coba masuk ke rongga mulutnya, menjilati dinding-dinding mulutnya. AKu sangat kaget ketika tangannya menarik kaosku ke atas, melewati mulut kami yang tengah beradu, kemudian ciumannya turun ke leherku dan ke dadaku. Tanganya tidak berhenti sampai di situ, dia mulai membuka ikat pinggang celanaku, saat bibirnya masih menciumi dadaku, tangannya menurunkan celanaku dan kemudian celana dalamku. Penisku yang diameternya 6 cm dan panjangnya hampir 20 cm mengacung tegak, kini tangan kananya menggengam penisku, aku pun berdiri dan kini wajah ayunya berada di depan penisku hanya beberapa senti saja. ku lihat dia menelan ludah, apa mungkin dia kaget dengan ukuran ini atau mungkin dia masih ragu melakukan ini. Aku pegang kepalanya yang masih menggunakan jilbab putih yang mulai kusut. kudekatkan penisku dengan bibirnya, bibirnya masih terkatup ketika ujung penisku menempel pada bibirnya, mungkin dia masih bingung apa yang dilakukannya. “Kulum sayang…ciumi sayang…ayo…” lalu dia buka bibirny
a sedikit dan mencium ujung penisku, kaku, tapi menimbulkan sensasi yang dahsyat, selain karena bibirnya yang lembut, hangat dan basah menyentuh ujung penisku, melihat seorang wanita yang masih berpakaian lengkap dengan jilbabnya itu hal yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. “cuup..mppuhmm..uhhmm…” bibirnya berkali-kali mengulum ujung penisku, sedikit-demi sedikit kulumannya semakin masuk. AKu lihat dia masih kaku dan belum lihat melakukan itu, tapi bagiku sensasi luar biasa. “mhhh…aauuuummm…uummhh”
akhirnya mulutnya berani memasukkan penisku, walau tidak sampai masuk semua, karena penisku terlalu panjang dan itu akan menyakitkannya. “shh…ahh…terus Vi…keluar masukin…” Novipun mengikuti perintahku dia memaju mundurkan kepalanya. “aahh…sayang…terus”…”mhh..uhmmhh..cuuupp..muuh” Novi terus melakukan aktifitasnya. hanya 5 menit lalu dia berhenti, “Kak…Novi ngga tahan…” diapun menarik tubuhku dan aku kini sama-sama duduk berhadapan. Aku tahun, dia dalam kondisi puncak, dia tidak dapat lagi menahan libidonya, akupun merebahkannya dan menindihnya. AKu regangkan kedua kakinya. Novi tampak pasrah dia memandangiku dan memperhatikan penisku yang tepat dihadapan vaginanya. Aku lupa sesuatu, segera ku raih celanaku yang tercecer di samping dan mengambil sesuatu di dompet. Ya, aku selalus edia kondom di dompet setelah ku buka dan akan kupasangkan, Novi menampik tanganku “ngga usah pake itu kak…aku ingin jadi milik kakak seutuhnya” aku tersentak dengan ucapannya “Kamu yakin Nov?” Novi mengangguk.

Kini kuarahkan ujung penisku mendekati lubang kewanitaannya “Tahan ya Vi…agak sakit…” Tangan kananku menggenggam batang penis dan digesek-gesekkan pada clitoris dan bibir kemaluan Novi, hingga Novi merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Aku terus berusaha menekan senjataku ke dalam kemaluan Novi yang memang sudah sangat basah itu.

Pelahan-lahan kepala penisku menerobos masuk membelah bibir kemaluan Novi. “Tahan kaak…sakii..t” dia merintih sambi menggigit bibir bawahnya. Aku pun menghentikan kegiatanku sementara, sambil menunggu aku maju mundurkan kepalpenisku ke bibir kemaluannya supaya bibir kemaluannya mulai menyesuaikan. Matanya masih terpejam dan terus menggigit bibir bawahnya, nafasnya tersengal. Sedikit demi sedikit aku masukkan kembali, pelan tapi pasti. Setiap penisku masuk novi melengguh menahan sakit. Vaginanya masih sempit tapi tanpa halangan penisku mulai masuk ke dalam. Dengan kasar Aku tiba-tiba menekan pantatku kuat-kuat ke depan sehingga pinggulku menempel ketat pada pinggul Novi. Dengan tak kuasa menahan diri dan berteriak, mungkin sakit. Dari mulut Novi terdengar jeritan halus tertahan, “Aduuuh!.., ooooooohh.., aahh…sakii…t..kaak..”, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Novi mencengkeram dengan kuat pinggangku.

Beberapa saat kemudian aku mulai menggoyangkan pinggulku, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat dan bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Novi berusaha memegang lenganku, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penisku pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas meja. Novi mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajahku, dengan takjub. Novi berusaha bernafas dan …:” “kaa..kk…, aahh…, ooohh…, ssshh”, sementara aku tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Novi sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Aku menggerakkan tubuhku, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya. Setiap kali aku menarik penisnya keluar, dan menekan masuk penisku ke dalam vagina Novi, maka klitoris Novi terjepit pada batang penisku dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penisku yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Novi menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Sementara tanganku yang lain tidak dibiarkan menganggur, Tanganku merengkuh punggungnya yang melengkung menahan nikmat, kemudia aku sibak jilbabnya dan terlihat dua payudara indahnya yang masih sembunyi dibalik kemeja yang sudha terbuka kancing bagian atasnya, branya pun sudha tersingkap ke atas menambah sensualitas pemandangan saat itu. Aku tarik punggungnya sehingga maskin melengkung ke atas, aku pun terus bermain-main pada bagian dada Novi dan Mencium dan kanag menggigit kedua payudara Novi secara bergantian. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuatku segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi aku terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.
Ia memiringkan kepalanya, dan terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, “Ooooh…, ooooooh…, aahhmm…, ssstthh!”. Gadis ayu itu Semakin erat mendekap kepalaku agar semakin rekat dengan payudaranya, aku tahu pelukan itu adalah penyaluran dari rasa nikmat dan klimaks yang mungkin sebentar lagi dia rasakan. Kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan…, akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Novi terkulai lemas tak berdaya di atas kasur dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penisku tetap terjepit di dalam liang vaginanya. Itu lah pertama kali dia merasakan indahnya orgasme.

Selama proses orgasme yang dialami Novi ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan olehku, dimana penisku yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Novi dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisku serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut seluruha penisku, terlebih-lebih pada bagian kepala penisku setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Novi, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaanku seakan-akan menggila melihat Novi yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kuning langsat mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnku.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Aku membalik tubuh Novi yang telah lemas itu hingga sekarang Novi setengah berdiri tertelungkup di dipan dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arahku. Aku ingin melakukan doggy style, tanganku kini lebih leluasa meremas-remas kedua buah payudara Novi yang kini menggantung ke bawah, tangunku menyusup lewat kemeja bagian bawah. Dengan kedua kaki setengah tertekuk, secara perlahan-lahan aku menggosok-gosok kepala penisku yang telah licin oleh cairan pelumas yang keluar dari dalam vagina Novi dan menempatkan kepala penisku pada bibir kemaluan Novi dari belakang.

Dengan sedikit dorongan, kepala penisku tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluan Novi, novi melengguh agak kencang..”aahhgg….” ketika penisku mulai menyeruak ke dalam vaginanya lagi. Kedua tanganku memegang pinggul Novi dan mengangkatnya sedikit ke atas sehingga posisi bagian bawah badan Novi tidak terletak pada dipan lagi, hanya kedua tangannya yang masih bertumpu pada kasur. Kedua kaki Novi dikaitkan pada pahaku. Kutarik pinggul Novi ke arahku, berbarengan dengan mendorong pantatnya ke depan, sehingga disertai keluhan panjang yang keluar dari mulut Iffa, “Oooooooh…aahh…shhh…ahh….!”, penisku tersebut terus menerobos masuk ke dalam liang vaginanya dan Aku terus menekan pantatnya sehingga perutnyaku menempel ketat pada pantat Novi yang setengah terangkat. Aku memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutku mendesis-desis keenakan merasakan penisku terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vagina Novi yang ketat itu. “Ahh…ahhh…aahh…kak..a.duuu..hh…mhh…teruss…” mulutnya terus mengaduh, tanda nikmat tiada tara yang dia rasakan. Tubuhny amaju mundur terdorong desakan penisku. Karena bagian pantat lebih tinggi dari kepala sehingga kemejanya turn ke bawah memperlihatkan pungguh mulus dan putih yang sebelumnya tidak pernah dilihat siapapun. Tangannya sambil terus meremas seprei dan merebahkan kepanaya di kasur. “shhh…ahh..kakk…aahh..aduuhh…kak….” semakin kencang teriakannya semakin menunjukkan kalau dia akan merasakan klimaks untuk kedua kalinya. AKupun mempercepat doronganku. “terus..kak…ahh…jangan berhenti…ahh…kak,…” Novi meracau semakin tidak karuan. dan….diapun mendongakkan kepalanya ke atas disertai lengguhan panjang “aaaaaaa……….hhhhhh….” dia klimaks untuk kedua kalinya. AKu cabut penisku dari lubang vaginanya, aku lihat cairan bening semakin banyak meleleh dari vaginanya. Tubuhnya melemas dan lunglai ketika aku lepaskan. Navasnya tersengal, pakaian dan jilbabnya kusut tak karuan. Keringat membuat pakaian dia yang tidak dilepas sama-sakeli menjadi basah. Namun dia memang wanita yang pandai merawat tubuhnya, bahkan keringatnya pun harus sekali baunya.

Setelah aku biarkan dia istirahat beberapa menit sambil meresapi orgasme untuk keduakalinya. Kemudian Aku merubah posisi permainan, dengan duduk di sisi tempat tidur dan Novi kutarik duduk menghadap sambil mengangkang pada pangkuanku. Aku menempatkan penisku pada bibir kemaluan Novi yang tampak pasrah dengan perlakuanku, Lalu aku mendorong sehingga kepala penisku masuk terjepit dalam liang kewanitaan Novi, sedangkan tangan kiriku memeluk pinggul Novi dan menariknya merapat pada badanku, sehingga secara perlahan-lahan tapi pasti penisku menerobos masuk ke dalam kemaluan Novi. Tangan kananku memeluk punggung Novi dan menekannya rapat-rapat hingga kini badan Novi melekat pada badanku. Kepala Novi tertengadah ke atas, pasrah dengan matanya setengah terkatup menahan kenikmatan yang melandanya sehingga dengan bebasnya mulutku bisa melumat bibir Novi yang agak basah terbuka itu.

Dengan sisa tenaganya Novi mulai memacu dan terus menggoyang pinggulnya, memutar-mutar ke kiri dan ke kanan serta melingkar, sehingga penisku seakan mengaduk-aduk dalam vaginanya sampai terasa di perutnya. Karena stamina yang sudha terkuras dengan dua klimaks yang didapatnya, goyangan Novis emakin melemah. Aku pindahkan kedua tanganku ke arah pinggannya dan tanganku mulai membantu mengangkat dan mendorong pinggul Novi agar terus bergooyang. Aku ihat penisku timbul tenggelam dibekap lubang vaginanya yang hangat. Rintihan tak pernah berhenti keluar dari mulutnya. “shh…ah…sshhh…ahhh..” Goyangannya teratur, setelah sekian lama dengan posisi itu, novi mulai bangkit lagi libidonya, dengan tenaga sisa dia mulai membantu tangaku dengan menggerakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Kedua tangannya kini merangkul kepalaku dan membenamkannya ke kedua gunug kembarnya yang besar dan halus. Aku tahu dia akan mengalami klimaksnya yang ketiga. Aku kulum dan lumat payudaranya, kepala novi menengadah merasakan nikmat yang tiada tara atas rangsangan pada dua titik tersensitifnya. Tak berselang kemudian, Novi merasaka sesuatu yang sebentar lagi akan kembali melandanya. Terus…, terus…, Novi tak peduli lagi dengan gerakannya yang agak brutal ataupun suaranya yang kadang-kadang memekik lirih menahan rasa yang luar biasa itu. Dan ketika klimaks itu datang lagi, Novi tak peduli lagi, “Aaduuuh…, eeeehm..ahh…kaa..kk…aahhh…”, Novi memekik lirih sambil menjambak rambutku memeluknya dengan kencang itu. Dunia serasa berputar. Sekujur tubuhnya mengejang, terhentak-hentak di atas pangkuanku.

Kemudian kembaliku gendong dan meletakkan Novi di atas meja dengan pantat Novi terletak pada tepi dipan dan kasur, kedua kakinya terjulur ke lantai. Aku mengambil posisi diantara kedua paha Novi yang kutarik mengangkang, dan dengan tangan kananku menuntun penisku ke dalam lubang vagina Novi yang telah siap di depannya. Aku mendorong penisku masuk ke dalam dan menekan badannya. Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar. Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuh Novi yang terkapar lemas dan pasrah terhadap apa yang akan aku lakukan.

Badan gadis itu terlonjak-lonjak mengikuti tekanan dan tarikan penisku. Novi benar-benar telah KO dan dibuat benar-benar tidak berdaya, hanya erangan-erangan halus yang keluar dari mulutnya disertai pandangan memelas sayu, kedua tangannya mencengkeram Sprei. Dan aku sekarang merasa sesuatu dorongan yang keras seakan-akan mendesak dari dalam penisku yang menimbulkan perasaan geli pada ujung penisku. Aku mengeram panjang dengan suara tertahan, “Agh…, terus”, dan pinggulku menekan habis pada pinggul gadis yang telah tidak berdaya itu, sehingga buah pelirku menempel ketat dan batang penisku terbenam seluruhnya di dalam liang vagina Novi. Dengan suatu lenguhan panjang, “Sssh…, ooooh!”, sambil membuat gerakan-gerakan memutar pantatnya, aku merasakan denyutan-denyutan kenikmatan yang diakibatkan oleh semprotan air maninya ke dalam vagina Novi. Ada kurang lebih lima detik aku tertelungkup di atas badan gadis ayu tersebut, dengan seluruh tubuhku bergetar hebat dilanda kenikmatan orgasme yang dahsyat itu. Dan pada saat yang bersamaan Novi yang telah terkapar lemas tak berdaya itu merasakan suatu semprotan hangat dari pancaran cairan kental hangat ku yang menyiram ke seluruh rongga vaginanya.

Aku melihatnya lemas dengan jilbab dan pakaian yang sudah nggak keruan bentuknya lagi. aku melihatnya menunduk sedih sambil menangis. AKu faham, gadis seperti dia tidak mungkin mudah untuk melakukan hal ini, tapi kali ini aku benar-benar membuatnya tak berdaya dan mengikuti nafsu duniawi. “Kak…” dia membuka perakapan ditengah hening kami menikmati pertempuran yang baru saja selesai. “Ya sayang…” sambil ku peluk dia.
“Kakak mau tanggung jawab kan?”

“Kakak mau menikahi Novi kan?” parau suaranya terdengar
Aku tersentak aku tak menyangka kalau dia langsungmengatakan itu. Tapi aku benar-benar tidak tega melihat kondisinya yang sudah menyerahkan semuanya kepadaku. Aku pun ingin memilikinya dan mengakhiri semua kebiasan burukku. AKu berjanji meninggalkan pacarku kalau dia mau menikah denganku, kenyataannya sekarang itu sudah di depan mata.
“i..iya..Nov…kakak akan tanggung jawab…kakak akan menikahi kamu” sahutku. Dalam wajah sedihnya kuliah bibirnya menyunggingkan sedikit senyum. Dan kamipun tertidur dengan saling memeluk seakan berharap agar pagi tak segera hadir.”

Aku Wanita Karier Yang Horny !!!!!!!

……dengan lunglai kulangkahkan kaki ku menyusuri lorong kantorku…….
“Huft….. cape bener aku hari ini kerjaan satu hari ini bagaikan kerjaan ku seminggu “ dalam hati aku bergumam “mana high heel ini membunuhku….. pegel rasanya ………tapi demi penampilan apapun aq jabanin deh…..” sambil melamun kakiku terus berayun melangkah menyusuri lorong kantorku” Kalau pake Higheell kakiku terlihat jenjang apa lagi pake rok kaya gini yang 10 sentian di atas lutut……….”
Awalnya aq gak biasa memakai rok mini dan atasan blus kaya gini tapi sebagai sekretaris pribadi di perusahaan telkomunikasi terbesar di negri ini hal ini sudah menjadi keharusan “biar menarik “ kata bosku……..
“Sas” suara setengah berteriak terdengar dari belakang ….. aq yang sedang melamun sontak kaget dan menjatuh kan berkas berkas yang aku pegang di dadaku ……….. aku punguti sambil melihat kearah datangnya suara yang memanggil ……… “ ehhhh elo nad” ternyata temanku nadya yang memanggil ku sambil berlari……. “Gara-gara elo nih jadi berantakan deh berkas-berkas gw” nadya pun mendekati dan membantu aq membereskan berkas yang berantahan “sasq putih n bulet bener dada lu sas” nadya berujar karena kancing blus ku emang rendah jadi dadaku yang berukuran 34b terbuka untuk dinikmati mata-mata lelaki yang beruntung “wah ke enakan nanti pa wiranto(bos aq) dikasih pemandangan kaya gini tiap hari” celoteh nadya sambil tertawa cekikikan ………. “heh lu asal ya klw ngomong dada lu tuh yang gede yang bikin laki-laki di kantor ini pada ngecessss” emang nadya berdada lebih besar dariku, kira kira 35 atw 36 B bohai baget tingginya kira-kira 165 an klw aku menang di tinggi….. tinggiku 168 cm kulitku pun lebih putih dari nadya maklum aq keturunan cinese dikit dan sunda tepatnya bandung ######gak mau kalah ###########
aq Sasq

[IMG]http://ruangfotounik.********.com/2010/11/narsis-tapi-cantik-dan-bening-full.html[/IMG]
aq dan nadya tinggal di apartemen yang sama cuma beda lantai “aku nebeng pulang ya sas “ kata nadya wah kebetulan nih aq lagi cape “ok deh nad lu yg nyetir ya nad” nadya tersenyum “ok lah bu”kami pun berjalan menuju lift yang langsung meluncur ke basement tempat mobilku di parkr……..ding pintu lift pun terbuka kami berjalan sambil cekikikan bercanda langsung menuju mobil jazz merahku………..”malem mba baru pada pulang nih “ suara lelaki menyapa kami dengan lembut ……ternyata pa sutikno satpam di gedung kantor kami badannya tegap cocok dengan seragam ketat nya di sudut mataku terlihat sesuatu menonjol dalam celana ketatnya dengan segera aku mengalihkan pandanganku “ehhh pa tikno hooh nih pa “ jawab nadya sambil membungkuk membuka pintu mobil ……mata pa tikno terarah ke rok nadya yang terangkat dan memperlihatkan paha nya yang mulus dan bokongnya yang menyembul……….”bapa juga baru pulang pa……..” sahutku memecah konsentrasi pa tikno …….. “iya bu emang tiap hari saya pulang jam segini “ jawab pa tikno sambil mengalihkan pandangan nya kearah dadaku yang yang padat dan putih ini….dasar laki-laki tapi akupun kembali melihat selewat gundukan di bawah celana ketatnya yahhh sama-sama lah…………
########mobilpun melaju keluar dari gedung #########

Teringat pemandangan kejantanan pa tikno tadi aku pun jadi membayangkan bagai mana kklw tubuhku yang putih ini digerayangi tangan kekar pa tikno ………… dadaku yang putih dengan pentil merah di pelintir dan dijilati dengan rakusnya ……lalu memiaw ku yang tanpa bulu ( soalnya aq suka mencukurnya aq sangat suka kebersihan) dan berwarna pink ini disodok sodok dan di udek udek oleh konti sebesar punya pa tikno ….uhhhh..arghhhh …… merinding bulu-bulu disekujur tubuhku terasa berdenyut dinding memiaw ku ser…..serr…….. basah juga memiaw yang selalu ku jaga kebersihannya ini ……….. “ hei lagi ngelamun jorok ya lu sas” suara nadya mengganggu pikiranku yang melayang sampe konti nya pa tikno yag kaya nya gede banget geeetooo……… “ hus emang lu yang pikirannya ngentot mulu nad” dengan muka merah aku menjawab ………… kami pun mulai ngobrol obrolan cewe dari baju , kosmetik sampe ngomongin cowo . “Ehh sas pa wiranto keliatannya sering curi2 pandang sama kaki lu yan lenjang n putih klw lu lagi jalan deh” kata nadya“Bukan Cuma pa wiranto aja lagi yang matanya jelalatan ngeliat kaki n pantat gw yang singset kaya kaki nya aura kasihhhsemua cowo di kantor juga gitu kalee” jawab ku sambil becanda…..”ehhh lu tau ga andri ……….bagian marketing itu lo yg macho itu “ “ tau lah emang kenapa nad ???” “ gara gara dia gw pulang kemaleman gini”sahut nadya “ emang kenapa ???” aku pun penasaran “tadi gw ‘maen ‘ ama dia dulu setelah kantor aga sepian” “ haaahhh dikantor nad ???…..gimana3 ceritanya emang nekat lu nad” “si andri tadi siang dateng mau ketemu bos ……….kebetulan bos lag ada tamu jadi dia nunggu di ruangan gw ……..kita ngobrol2 n tu mata si andri belanja terus …….dari paha sampe dada gw yang kancing yang berontak keluar blus karena kancing nya gw buka dua kancing …..gw godain aja gw liatin cd gw yg nyembul n gw kasih dia pemandangan toket gw waktu gw pura pura ngambil pulpen yg jatoh …….ngobrol punya ngobrol gw janjian aja sepulang kantor di ruangan gw……..ehhh pas gw nganter si bos pulang dia udah nungguin gw di depan pintu…….. kita masuk ke ruangan ehhh dia langsung memeluk gw dari belakang si andri menciumi leher gw dan tangan na ngeremes remes toket gw dari belakang “ “terus terus nad” tanyaku penasaran “terus…terusss ky tukang parker aja lu sas…….. mulai kerasa pantat gw kesodok sodok ama kontinya si andri …….……….gw ngebalik trus gw sosor mulut si andri gw usap usap dgn lembut konti si andri dari luar celananya kontinya gak besar si sas cuman keras banget …… gak lama gw buka resletingnya dan tuing kontinya udah berontak dari celana dalem nya …….di gesek gesek kin tuh konti ke memiew gwyg masih pake g string sambill tangan nya ngebuka blus gw trus masuk ke bh gw dan ngusap2 pentil gw serrrrr…serrrrr basah memiaw gw ……….pengen rasanya diamasukin tuh konti ……..dia nyingkapin rok gw trus dia buka celana dalem g string gw plos ……… memiaw tanpa jembut gw langsung di ciumin trus dijilatin sampe gw mengap 2 …..jago juga dia maenin lidahnya di memiaw gw ampe gw mendesah ahhhh ahhhh andri ahhhhh ahhhh……..abis itu gw tarik kontinya yg udah tegang gw ajak dia pindah ke sofa di ruangan boss…… disana gw sepngin yuh konti dan dia ngejilatin memiaw gw ……pasisi 69 yang legendaries itu lohhh sasss …….trus kita pindah ke meja bos …. Gw duduk dimeja gw kangkangin kaki gw …….trus dia gesek gesekkin kontinya dgn lembut sambil mulutnya gigit putting gw yang masih pake bh aarhhhhh ayo dong ndriiii masukin kalo lu berani ….gw udah gak tahan tapi dia cumin gesek2 kontinya di bibir memiaw gw……….kayanya dia mau ngegoda gw ……dia masukin kepalanya dikocok dikit tros dicabut lagi….dia masukin lagi kepala kontinya nya kememiaw gw yang udah banjir terus dicadut lagi……ehhh pas yang ke tiga kali dia masukin kepala kontinya ke memiaw gw ……..gw ngeliat si ujang orang pantry lagi ngeliatin trus lari ….entah dari kapan tuh si ujang menikmati adegan entotan gw ama si andri…….sontak gw cabut kepala konti ni andri dari memiaw gw dang w beres beres baju……….siandri pun kaget trus dia pergi bawa cd gw tar klw ketemu lagi gw balikin kata si andri …….gw cepet2 setengah lari keluar n ketemu lu dehhh” nadya pun berhenti nyerocos sambil tersenyum……..
“ Jadi tadi tuh lu……..”kalimat gw terputus “ yap” kata nadia “ kentang ni sas memiaw udah basah harus di tuntaskan “ kata nadya sambil tertawa genit. Emang si nadya ini emang jagonya klw soal cowo dengan toket nya yg gede dan kebuka dikit cowo udah pada kelepek kelepek dehhhh……..

######### Tak lama kami pun sampe di apartemen
dan langsung menuju lantai masing masing#########

…….. “kenapa si lu nad buru buru banget” Tanya ku yang melihat nadya tergesa – gesa sedari mobil tadi “ada dehhhh ……….. mau tau ajaaa…………. Ehhh tar malem kita keluar yuu…… aq lagi horny nehhhh hehehehe” kata nadya sambil setengah berlari dan menjinjing higheel nya “ ga gw cape mau tidurrrr” teriak ku …..lift pun meluncur naik dua lantai menuju apartemen ku ……….hahhhh cape bener hari ini untung denger cerita nadya yang bikin memiaw ku senat senut dan bikin male mini jadi cerah……………..akupun segera menuju kamar mandi , mandi air panas ……….. dengan berbalut handuk aku melangkahkan kaki kearah lemari bajuku……….kebuka handuk yang melilit tubuhku terlihat di cermin toket bulat ke yang putting nya pink dan memiw ku yang masih rapet “ohhhh indah tubuh mu dan cantik parasmu sasq” gumamku sendiri ……… aku ganti baju tanktop anpa mengenakan bra puting ku yang mancung mencetak jelas di tanktop ku dan celana pendek yang memamerkan kaki lenjang dan putih ku……… aku berjalan keruang tv dan kunyalakan tv …….” uhhhh gak ada yang rame …. mana jadi susah tidur lagi …….apa karena cerita nadya tadi ya ngebangkitin birahiku huhhhh …..mendingan ke apartemen nadya ahhh siapa tau dia jadi ngajak keluar” gumamku . Aku pun melangkahkan kaki menuju apartemen nya nadya dibawah ………di lift dalam lift ternyata ada seorang lelaki yang menuju kebawah juga …….”kelantai berapa mba” kata llelaki itu sopan “lantai 8 mas ” jawabku dengan suara halus………..lelaki itu memperhatikan tonjolan di tangtopku ………. aku telah memberinya pemandangan bukit toketku yang tertutup tangtop dengan ………aku memang agak eksibisionis tapi ngak freakkk …….pintu lift pun terbuka “maksih ya mas ” kataku aaga menggoda……..langsung ku menuju apartemennadya …….ya ampunnnn pintunya ko nhebuka sedikit …..aku langsung masuk aja tanpa mengetuk pintunya maklum udah biasa “ceroboh amat nih si nadya pintu kebuka …..gimana klw ada yang masuk trusss merkosa dia ……ahhhh dia si malah seneng hihihihihi ” gumamku aku langsung masuk ke tempat tv nya ……….di dalam ruang tidurnya terdengar suara perempuan sedang melenguh ahhhhh ahhhhhh dan suara polkkkplokkk plokkk ……”wah si nadya lagi mnsturbasi nehhh……..aku intip ahhh trus aku kagetin……hehehehehhe udah kebayang muka kagetnya nadya” dalam pikiranku ……. akupun mendekati kamar …….semakin dekat kok terdengar suara lelaki mengerang arghhhh arghhhh dan suara hentakan ranjang yang berbenturan dengan tembok…….aku makin penasaran aku intip dari sela sela pintu …….. OMG nadya lagi ngentot ama seorang laki laki …….. nadya membungkuk diatas kasur sedangkan laki laki itu menyodok memiaw nadya dari belakang dengan kontinya ……tan pa sadar akupu meremas remas toket ku dengan tangan kanan ku sementara tangan kiriku menyusup dalam celana pendek ku dan mengusap usap memiaw ku …….ser…..serr basah memiaw ku ……… desahan nadya ahhhhhh………ahhhhhhhhh ….ohhhhhhhhh……. diselingi desahan lelaki itu arghhhhhhh….arghhhhhhhhh…….. bagai kan musik terindah yang kudamba dambakan ……..lalu nadya berkata setengah berteriak “AHHHHHHH …….ayoooo Ahhhhhh….. terus ……ahhhhhh……… lebihhhh dalemmmm lagi ahhhhhhhhh”………. telunjuk ku mulai memainkan klitorisku semakin banjir dehhhh memiaw ku…….. mereka pun berganti posisi dan kulihat ternyata lelaki yang mengentot nadya adalah……………